Stunting di Bandung Barat Tembus 30,8 Persen, Jauh di Atas Rata-rata Nasional

Sejumlah anak-anak tampak mengenakan masker untuk melindungi diri dari paparan asap akibat bencana kebakaran.
Sejumlah anak-anak tampak mengenakan masker untuk melindungi diri dari paparan asap akibat bencana kebakaran. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Angka prevalensi stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) melonjak drastis pada 2025.

Berdasarkan hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) dari Kementerian Kesehatan (Kesehatan) tahun 2024, Bandung Barat menjadi daerah dengan angka stunting terbesar di Jawa Barat dengan tingkat prevalensi mencapai 30,8 persen atau 30 dari 100 anak di Bandung Barat mengalami gagal pertumbuhan.

Angka ini menunjukkan tren peningkatan signifikan dibanding dua tahun sebelumnya, yakni 27,30 persen pada 2022 dan 25,10 persen pada 2023.

Baca Juga:Kapolresta Bandung Resmi Jadi Dewan Penasehat dan Bapak Angkat Komunitas Ojol Samawana JabarDebut Sensasional! Fakhri Rookie SMAN 1 Baleendah, Borong 22 Poin di DBL Bandung 2025

Dengan angka 30,8 persen, Bandung Barat bukan hanya menempati posisi tertinggi di Jawa Barat, tapi juga jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 19,8 persen.

Melihat angka tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bandung Barat meragukan hasil survei SSGI dari Kemenkes. Apalagi survei tersebut menggunakan metode sampel, sehingga tak mewakili kondisi nyata di lapangan.

“Itu kan metode surveinya sampling, jadi kalau di Bandung Barat lokasi yang disurvei balita pendek maka hasilnya akan tinggi. Itu jelas gak menggambarkan realitas,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Bandung Barat Enung saat dikonfirmasi, Kamis (18/9/2025).

Enung menilai Pemkab Bandung Barat telah mengantongi data kasus stanting yang lebih pasti dari aplikasi E-PPGBM atau Aplikasi Elektronik-Pencatatan Dan Pelaoran Gizi Berbasis Masyarakat (e-Ppgbm) yang berbasis laporan pengecekan balita dari seluruh Puskesmas. Hasilnya, angka kasus stunting cuma 4,95 persen.

“Jadi di e-Ppgbm itu 4,95 persen dan itu tuh ada data by name by adresnya seluruh balita KBB,” tambahnya.

Ia mengklaim, Dinas Kesehatan KBB sepanjang tahun 2024 sudah menjalankan serangkaian program intervensi stunting mulai dari pemberian makanan tambahan atau PMT bgi 300 balita dan 200 ibu hamil, PMT Lokal bagi balita 1.740 anak dan 1.127 ibu hamil, dan pemberian telur ayam (Pelita Bening) 33.093 anak serta 1.242 ibu hamil.

“Kalau dari kita Dinkes terutama bidang Kesmas itu kita melakukan intervensi spesifik. Itu tadi dengan memberikan makanan tambahan. Terus kalau balita ada risiko sakitnya ya dirujuk, jadi kita sudah melakukan itu semua,” tandasnya.

Baca Juga:Afwaja Center Gelar Ujian Kualifikasi Bahasa Arab untuk Calon Pelajar Al-Azhar KairoPGN Masuk Daftar Top 50 BigCap PLCs, Bukti Konsistensi Tata Kelola Berintegritas

Diketahui, berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia 2024 ada 5 daerah dengan prevalensi stunting balita tertinggi di Provinsi Jawa Barat yakni Kabupaten Bandung Barat 30,8%, Kota Cimahi 22,3%, Kabupaten Bandung 24,1%, Kota Bandung 22,8%, dan Kabupaten Kuningan 22,7%. (Wit)

0 Komentar