Sempat Mangkrak, Revitalisasi Situ Lengkong Panjalu Tahap II Kembali Dimulai

Sempat Mangkrak, Revitalisasi Situ Lengkong Panjalu Tahap II Kembali Dimulai
Situ Lengkong Panjalu di Kabupaten Ciamis yang kini mulai digarap kembali pasca mangkrak. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Proses revitalisasi Situ Lengkong Panjalu Kabupaten Ciamis akhirnya memasuki babak baru. Setelah tertatih-tatih akibat mangkraknya proyek tahap pertama yang kini sedang dalam penyidikan dugaan korupsi oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Ciamis, tahap kedua pembangunan secara resmi telah berjalan sejak sebulan terakhir. Proyek yang mengusung anggaran sekitar Rp4,5 miliar ini menjadi angin segar bagi warga dan pemerintah setempat yang berharap pemulihan destinasi wisata religi tersebut segera terwujud.

Kepala Desa Panjalu, Yuyus Surya Adinegara, dalam keterangannya pada Kamis (18/9/2025), menyatakan optimisme yang tinggi terhadap kelancaran proyek tahap kedua ini. Ia memastikan bahwa semua kendala telah tertangani dan pengerjaan tetap berjalan sesuai jadwal yang ditetapkan. “Semua sudah tidak ada masalah, tinggal pemberesan. Hari ini sudah terlaksana tahap kedua. Insya Allah 1 Januari 2026 Situ Panjalu bisa kembali dibuka untuk umum seperti biasanya,” ujar Yuyus.

Menurutnya, target penyelesaian proyek tahap kedua ini sebelum Desember 2025. Meski sempat dihantui oleh kasus hukum yang menjerat kontraktor sebelumnya, Yuyus menegaskan bahwa progres revitalisasi tidak lagi terhambat. “Kalau penyedia jasa yang lama (tahap pertama) memang bermasalah. Tapi alhamdulillah proyek untuk Panjalu tidak terganggu,” tambahnya.

Baca Juga:Bantah Dipetieskan! Kejari Ciamis Klaim Kasus Dugaan Korupsi Revitalisasi Situ Lengkong Panjalu Rampung Tahun IniKasus Revitalisasi Situ Lengkong Panjalu Ciamis Masuk Tahap Penyidikan

Yuyus tidak menampik bahwa penutupan kawasan wisata tersebut membawa dampak buruk bagi masyarakat. Aktivitas para pedagang dan sektor pariwisata setempat memang mengalami gangguan. Namun, ia menyikapi hal ini sebagai sebuah konsekuensi logis yang harus diterima demi hasil yang lebih baik di masa mendatang. “Benar ada pedagang terganggu, wisata pun ikut terdampak. Itu sebuah konsekuensi yang siap kami hadapi demi hasil yang lebih baik ke depan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Yuyus memberikan analisis mengenai penurunan jumlah pengunjung yang terjadi. Ia berpendapat bahwa fenomena itu tidak semata-mata disebabkan oleh proyek revitalisasi, melainkan lebih dipengaruhi oleh kondisi ekonomi nasional yang sedang kurang menguntungkan. “Kalau peziarah relatif stabil, tapi untuk wisatawan umum memang turun. Menurut analisa kami, bukan karena pembangunan, tapi faktor ekonomi negara yang sedang kurang baik,” jelasnya.

0 Komentar