KPA Kota Banjar Catat 376 Kasus HIV/AIDS, Kelompok LSL Paling Rentan

Wakil Wali Kota Banjar H supriana sekaligus Ketua Pelaksana KPA Kota Banjar saat diwawancara awak media belum
Wakil Wali Kota Banjar H supriana sekaligus Ketua Pelaksana KPA Kota Banjar saat diwawancara awak media belum lama ini. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar, Jawa Barat, kembali mengingatkan masyarakat akan ancaman laten HIV/AIDS setelah merilis data terkini yang mencengangkan. Hingga pertengahan tahun 2024, jumlah kumulatif Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Banjar telah mencapai 376 orang. Yang lebih mengkhawatirkan, sejak Januari lalu, tercatat penambahan 18 kasus baru, menunjukkan bahwa penularan virus ini masih aktif terjadi.

Berdasarkan pemetaan epidemiologis yang dilakukan oleh KPA bersama Dinas Kesehatan Kota Banjar, terlihat pola yang sangat jelas, yakni kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) merupakan populasi yang paling terdampak dan menyumbang proporsi terbesar dari total kasus. Temuan ini menjadi landasan kritikal bagi para pemangku kebijakan untuk segera merumuskan dan mengimplementasikan strategi pencegahan serta penanganan yang lebih tepat sasaran, efektif, dan inovatif.

Menanggapi temuan data yang memprihatinkan ini, Ketua KPA Kota Banjar, Tantan Sopian, menekankan bahwa dominasi kasus pada kelompok LSL memerlukan pendekatan khusus yang holistik. Pendekatan tersebut tidak boleh hanya berfokus pada aspek kesehatan medis semata, tetapi juga harus menjangkau aspek sosial, psikologis, dan penguatan komunitas.

Baca Juga:INAUGURAL 2.0: Momentum Sakral Pelantikan OXI di Pangandaran, Satukan Ratusan Riders dari Berbagai WilayahCinta Maura Islami Kasih Jadi Sorotan di Azarine DBL Dance Competition 2025 West Java-East

“Kami terus berupaya secara maksimal untuk meningkatkan intensitas sosialisasi dan edukasi tentang pencegahan HIV/AIDS, khususnya yang ditujukan kepada kelompok berisiko tinggi. Dalam hal ini, kolaborasi dan kerja sama yang sinergis dengan berbagai pihak, hingga seluruh fasilitas kesehatan adalah kunci utama untuk menekan laju penularan,” tegas Tantan dalam rilis resminya, Selasa (15/9/2025).

Tantan lebih lanjut menjelaskan bahwa edukasi yang diberikan harus mencakup pemahaman tentang routes of transmission (cara penularan), pentingnya tes HIV secara berkala, serta promosi penggunaan alat pelindung seperti kondom yang tepat. Namun, yang tak kalah penting adalah menciptakan lingkungan yang aman dan agar kelompok berisiko tidak merasa terstigmatisasi sehingga berani datang untuk mengakses layanan kesehatan.

Di samping upaya medis, KPA Kota Banjar secara aktif mendorong seluruh lapisan masyarakat untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Stigma sosial seringkali menjadi hambatan terbesar yang membuat orang enggan melakukan tes, mengetahui status kesehatannya, dan akhirnya menjalani pengobatan.

0 Komentar