Alih-alih dilihat sebagai aksi yang mengganggu citra, pemerintah harus menangkap pesan mendesak di balik topeng dan drama tersebut. Keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi tameng abadi untuk pembenaran atas ketidakmampuan memenuhi hak dasar warga.
Pemerintah dituntut untuk lebih kreatif dan gesit dalam mencari solusi pendanaan, memangkas birokrasi yang berbelit, dan memastikan bahwa dana yang ada dialokasikan untuk prioritas yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Karnaval ini adalah pengingat bahwa masih banyak rakyat yang harus berjuang untuk hal yang paling mendasar yakni jalan yang layak. Aspal palsu dalam parade itu adalah metafora sempurna bagi janji dan kebijakan yang tidak pernah terwujud. (CEP)
