Selain pembiasaan, sekolah juga menyediakan ekskul khusus Aksara Sunda.
“Memang tidak semua buku pelajaran memuat materi ini. Jadi kami sisipkan dalam pelajaran bahasa Sunda. Untuk kelas 4 sampai 6 ada ekskulnya. Sementara kelas 3 masih sebatas pengenalan,” imbuh Diana.
Meski begitu, Diana tak menampik adanya kesulitan.
“Anak-anak kadang bingung menulis per suku kata. Misalnya kata ‘kaca’, seharusnya ditulis ‘ka-ca’, tapi mereka menuliskannya ‘ka-ka A’. Jadi perlu pemahaman lebih tentang struktur penulisan. Tantangan lain, kadang garis huruf tidak tegas, harus lurus, tapi malah melengkung. Jadi butuh ketekunan,” jelasnya.
Kendati penuh tantangan, Diana melihat antusias siswa justru semakin tinggi.
“Mereka senang karena ini berbeda dengan menulis huruf biasa. Ada kreativitas tersendiri. Jumlah yang ikut ekskul juga cukup banyak. Semangat mereka luar biasa,” katanya.
Baca Juga:Eksklusif, Ultra Milk Luncurkan Rasa Baru Blueberry Blast di Kompetisi DBL Dinkes Kabupaten Bandung Pastikan Tidak Ada Tunggakan BPJS Kesehatan, Hanya Tagihan Berjalan
Lebih jauh, Diana berharap pembelajaran Aksara Sunda tidak berhenti di bangku sekolah.
“Saya ingin anak-anak bisa mengimplementasikannya di kehidupan sehari-hari. Apalagi sekarang banyak papan jalan di Bandung menggunakan Aksara Sunda. Kalau tidak bisa baca, nanti mereka akan kesulitan. Jadi penting sekali menjaga agar aksara ini tetap hidup,” tegasnya.
Lomba ini mungkin hanya salah satu dari sekian banyak kegiatan pelestarian budaya.
Namun, di balik rasa deg-degan, goresan huruf di kertas, dan senyum kecil anak-anak yang percaya diri, tersimpan sebuah harapan besar.
Agar generasi mendatang tidak hanya pandai bermain gawai, tetapi juga bangga dengan identitas budayanya sendiri.
