Dengan berbagai fasilitas tersebut, tidak mengherankan bila masyarakat Swedia rela membayar pajak tinggi. Mereka sadar bahwa apa yang dibayarkan kembali kepada mereka dalam bentuk layanan publik yang adil dan bermanfaat.
Di sisi lain, masyarakat Swedia memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi terhadap badan pemungut pajak di negaranya. Lembaga tersebut bahkan tercatat sebagai salah satu institusi paling dipercaya di Swedia.
Salah satu alasannya adalah karena kualitas pelayanan yang diberikan. Badan pajak di Swedia dinilai lebih proaktif dalam melayani masyarakat. Misalnya, setiap tahun warga tidak perlu repot mengurus Surat Pemberitahuan Pajak, karena semua proses administrasi sudah diselesaikan terlebih dahulu oleh otoritas pajak. Masyarakat hanya menerima pemberitahuan resmi tanpa perlu ribet. Situasi ini tentu berbeda dengan di banyak negara lain.
Baca Juga:6 Tuntutan Utama Demo Buruh 28 Agustus 2025, Dari Pajak hingga Upah MinimumTunjangan DPR Rp50 Juta per Bulan Picu Polemik, Janji Dibagikan ke Masyarakat
Selain itu, Swedia juga dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi paling rendah di dunia. Negara ini menempati peringkat kedelapan dalam daftar negara terbersih dari korupsi, sementara Indonesia berada di peringkat ke-99. Tidak heran jika masyarakat Swedia begitu percaya pada lembaga pemungut pajaknya.
Dengan kondisi tersebut, wajar bila tarif pajak yang relatif tinggi di Swedia tidak menimbulkan masalah berarti bagi warganya. Mereka merasa apa yang dibayarkan sebanding dengan pelayanan publik yang diterima.
Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa tarif pajak tinggi berdampak negatif pada perekonomian, karena dapat menurunkan daya beli masyarakat. Namun, hal ini tidak berlaku di Swedia. Justru karena pajak digunakan untuk membiayai berbagai layanan publik penting seperti pendidikan dan kesehatan, masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk kebutuhan primer.
Selain itu, tidak semua pekerja di Swedia dikenakan pajak di atas 50%. Banyak pekerja yang hanya membayar sekitar 30% atau bahkan lebih rendah, tergantung wilayahnya. Dengan demikian, mereka masih memiliki daya beli yang cukup untuk membelanjakan pendapatan pada kebutuhan lain, sehingga roda perekonomian tetap berputar.
Pertumbuhan ekonomi Swedia pun relatif stabil. Meski tidak setinggi Indonesia yang mencapai sekitar 5% per tahun, stabilitas ini wajar mengingat Swedia merupakan negara maju. Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Swedia mencapai sekitar 58.000 dolar AS, termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Sebagai perbandingan, PDB per kapita Indonesia masih berkisar 4.000 dolar AS. Perbedaan ini menunjukkan betapa jauhnya tingkat kesejahteraan antara kedua negara.
