JABAR EKSPRES – Pembangunan Kota Bandung dinilai tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan kawasan terbangun. Keberadaan pohon dan vegetasi perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari sistem kehidupan kota.
Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, mengatakan pembangunan perkotaan perlu melihat vegetasi sebagai bagian dari infrastruktur alami.
Ketika kawasan yang sebelumnya ditutupi vegetasi berubah menjadi bangunan, jalan, dan permukaan beton, kemampuan lingkungan untuk menyerap air serta menahan panas ikut berkurang.
Baca Juga:Rachmat Irianto, Wajah Manusiawi Persebaya JuaraPemkab Tasikmalaya Kebut Perbaikan Jalan, Warga Diminta Ikut Menjaga agar Tak Cepat Rusak
“Dalam kondisi tersebut, kawasan perkotaan menjadi lebih rentan mengalami urban heat island atau pulau panas perkotaan,” kata Prof. Ridwan.
“Karena itu, menanam dan mempertahankan pohon bukan sekadar urusan estetika. Di Bandung, keberadaan pohon berkaitan langsung dengan kenyamanan dan ketahanan kawasan perkotaan,” lanjutnya.
Persoalan tersebut menjadi penting di tengah upaya Pemerintah Kota Bandung memperkuat ruang terbuka hijau. Pada 10 Agustus 2026, Pemkot Bandung menerima 2.000 bibit pohon untuk mendukung penghijauan kota. Pemerintah menekankan bahwa tantangan berikutnya adalah memastikan pohon-pohon tersebut dapat tumbuh dan terawat.
Namun, bagi pegiat lingkungan dan masyarakat, penghijauan tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak pohon yang ditanam.
Dari sisi masyarakat, keberadaan pohon juga bukan sekadar persoalan estetika kota. Warga Kota Bandung selama ini merasakan langsung manfaat vegetasi, terutama dalam menciptakan keteduhan bagi pejalan kaki, mengurangi panas, serta menyediakan ruang publik yang lebih nyaman.
Azmi Khaerudin (29) warga Antapani, mengatakan keberadaan pohon di lingkungan perkotaan menjadi kebutuhan yang semakin terasa ketika kawasan dipenuhi bangunan dan permukaan beton.
“Kalau siang terasa sekali bedanya kawasan yang banyak pohon dengan yang hampir tidak ada pohon. Yang ada pohonnya lebih teduh dan nyaman untuk warga,” katanya.
Baca Juga:193 Warga Tasikmalaya Terima Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya, Anggaran Capai Rp3,86 MiliarKorban Kebakaran Sodonghilir Mulai Terima Bantuan Darurat, Delapan Rumah Rusak Berat
Ia juga berharap pemerintah tidak hanya melakukan penanaman ketika ada program atau seremoni, tetapi memastikan pohon yang sudah ada tetap terlindungi.
“Jangan hanya tanam pohon baru. Pohon yang sudah besar juga harus dijaga, karena untuk mendapatkan pohon besar membutuhkan waktu bertahun-tahun,” ujarnya.
Keterlibatan masyarakat dalam menjaga vegetasi juga mulai terlihat melalui kegiatan citizen science. Pada Januari hingga Mei 2026, masyarakat dilibatkan dalam BiodiverCity Walk untuk mendata keanekaragaman hayati di enam ruang terbuka hijau utama Kota Bandung.
