JABAR EKSPRES – Gubernur Jabar Dedi Mulyadi kembali menyampaikan peringatan tegas terkait kasus balita meninggal dengan banyak cacing di Kabupaten Sukabumi. Pihaknya mendorong audit investigasi terhadap layanan kesehatan di lokasi peristiwa memprihatinkan itu.
Hal itu diungkapkan, Jumat (22/8). Dedi Mulyadi menguraikan, macetnya layanan kesehatan karena faktor administrasi itu bukan kali pertama di Sukabumi. “Mohon maaf ya kasusnya udah terlalu banyak kalau di Sukabumi. Saya kan nangani Sukabumi udah sering, ” jelasnya.
Karena itu, pihaknya memerintahkan audit layanan kesehatan agar kasus serupa tak terulang. “Bupati Sukabumi, Direktur Rumah Sakit di Sukabumi segera lakukan evaluasi. Dan saya minta nih Kepala Dinas Kesehatan (Jabar.red) lakukan audit investigatif dan kemudian nanti rekomendasikan pada bupatinya untuk memberikan tindakan, ” sambungnya.
Baca Juga:Diduga Terlibat Penculikan dan Pembunuhan Kacab Bank di Jakarta, 4 Pria Ditangkap!Kasus Balita Meninggal Akibat Cacingan, Menteri PPPA Dorong Aktifkan Kembali Posyandu dan Bidan Desa
Pria yang akrab disapa KDM itu melanjutkan, kasus tersebut menjadi catatan serius terhadap layanan kesehatan di Jabar. “Pemerintahan Desa, PKK, Posyandunya harus aktif dengan baik. Lakukan penimbangan balita dalam setiap bulan dan itu tradisi yang telah dilaksanakan sejak saya kecil dulu dan ini harus terus berlangsung, ” tegasnya.
Sebelumnya, KDM juga sudah menyampaikan sanksi tegas terkait kasus itu. Pihaknya menunda kucuran dana bantuan ke salah satu Desa di Kabupaten Sukabumi tersebut.
Dedi Mulyadi punya alasan serius terkait langkah itu. Pihaknya prihatin dengan kasus yang terjadi di desa itu.
Yakni kasus anak di Desa Cianaga yang meninggal dengan kondisi penuh cacing. “Desa itu saya tunda bantuan ke desanya,” bebernya saat HUT Jabar beberapa waktu lalu.
Pria yang akrab disapa KDM itu menuturkan, desa tersebut dinilai kurang tepat. “Karena tidak bisa urus warganya,” cetusnya.
Kondisi itu memprihatinkan. Mengingat saat ini usia Jabar sudah 80 tahun tapi masalah kesejahteraan masyarakat masih miris. “80 tahun Jawa Barat terbangun, tapi kemiskinan masih menganga,” katanya. (son)
