Nendi juga menyebut di sekolahnya pembagian MBG ini terbagi dua shift yakni pagi dan siang, sedangkan siswa yang terdampak berasal dari shift siang.
“Kalau pagi alhamdulillah tidak ada apa-apa. Untuk siang, makanan memang ada jeda waktu antara masak pagi dan siang, sesuai SOP dan pengawasan ahli gizi,” terangnya.
“Makanya ahli gizi dan koki pun kita memang diperintahkannya direkrut sesuai dengan bidangnya gitu. Kebetulan juga ahli gizi nya makanya kita datangkan juga ke sini agar bisa menjelaskan tentang penyajian dan lain-lainnya sesuai dengan ahli gizi yang sudah dihitung takaran dan gram masing-masing,” sambungnya.
Baca Juga:Alokasi Rp335 Trilun untuk MBG Bakal Untungkan UMKM?8 Orang Luka-Luka dalam Kecelakaan Truk MBG di Kolmas KBB, Polisi Dalami Penyebabnya
Meski begitu, Nendi menegaskan jika peristiwa ini bukanlah keracunan dari makanan.
“Iya, betul Pak. Karena kan dari kita gerak dari penerima mandat dari 1854 itu Alhamdulillah ya istilahnya baru 12 gitu,” ungkapnya
“Mudah-mudahan ya tidak ada lagi karena kita pasti menerapkan di dapur kita sesuai SOP karena kita juga sudah kedatangan dari Dinkes, Puskesmas dan lain-lain. SOP-nya pasti sama kita diterapkan. Kokinya pun yang istilahnya background-nya memang yang sudah berpengalaman di bidang koki. Ahli gizi nya pun Itu memang background-nya juga istilahnya yang ahli gizi gitu,” sambungnya.
Penyedia Janjikan Evaluasi
Sementara itu, Ketua SPPG Kecamatan Cilengkrang, Egi Ermawan, mengaku sudah bertemu dengan orang tua siswa yang terdampak. Ia memastikan pihaknya akan memperketat pengawasan dan mengevaluasi prosedur penyajian.
“Tadi kita sudah bermusyawarah secara baik-baik. Ada masukan dari orang tua yang akan jadi bahan evaluasi agar lebih ketat lagi sesuai SOP,” ujar Egi.
Ia menegaskan bahwa dari 300 porsi makanan yang dibagikan di SDN Legokhayam, hanya 12 siswa yang dilaporkan mengalami gejala muntah-muntah.
“Alhamdulillah tidak ada yang dirawat. Semua bisa ditangani dengan obat maupun pemeriksaan dokter,” katanya.
Egi menjelaskan, proses memasak dilakukan bertahap agar makanan tetap segar.
Baca Juga:Korban Baru Dugaan Penipuan Modus Program MBG kembali Melapor Polres CiamisRatusan Korban Keracunan MBG di Bogor Ternyata Berasal dari Bakteri Telur Ceplok dan Tumis Tauge
“Kalau masak pagi ya khusus untuk shift pagi, sedangkan yang siang dimasak lagi menjelang jam makan siang. Jadi tidak sekaligus, ada jeda waktunya,” ungkapnya.
