Generasi Gadget Mengancam, Cimahi Upayakan Perkuat Budaya Baca Sejak Dini

Bunda Literasi, Midjiati Ningsih saat Bersama Peserta CRH di Alam Wisata Cimahi. (Mong/Jabar Ekspres)
Bunda Literasi, Midjiati Ningsih saat Bersama Peserta CRH di Alam Wisata Cimahi. (Mong/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang kian menggerus minat baca generasi muda, Pemerintah Kota Cimahi mengambil langkah serius untuk menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Melalui Dinas Arsip Daerah, Pemkot Cimahi menggelar Jambore Cimahi Reading Habit (CRH) 2025 di Alam Wisata Cimahi, Rabu (20/8/2025).

Sebanyak 1150 siswa sekolah dasar terlibat dalam CRH ini dan bukan sekadar ajang rekreasi, melainkan upaya konkret memperkuat daya tahan generasi muda terhadap dampak negatif gawai yang kerap membuat anak-anak lebih akrab dengan layar ketimbang buku.

Dengan mengusung metode 5R – Read, Resume, Recap, Report, Reward, setiap siswa didorong tidak hanya membaca, tetapi juga menuliskan ringkasan, menyampaikan kembali isi bacaan, melaporkan hasilnya kepada guru, hingga memperoleh penghargaan.

Baca Juga:Mahasiswa KKN IPB University Ubah Sampah Plastik Jadi Pojok BacaWarga Belum Gemar Membaca, DPRD Cimahi Tantang Semua Pihak Tingkatkan Literasi

Skema tersebut dirancang agar literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, melainkan berkembang menjadi keterampilan berpikir kritis, menulis, serta memperkuat kedisiplinan belajar.

“Budaya membaca harus menjadi bagian dari kehidupan anak-anak kita. Dengan membaca, mereka menambah pengetahuan sekaligus memperkuat karakter,” tegas Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, saat membuka kegiatan.

Sejak digulirkan pada 2014, program CRH terbukti mampu melawan tren penurunan budaya baca yang kini menjadi isu nasional.

Data terbaru menunjukkan adanya peningkatan signifikan jumlah pemustaka aktif, dari 32.090 orang pada 2023 menjadi 40.152 orang pada 2024.

“Lonjakan ini diyakini sebagai hasil nyata dari inovasi literasi yang digagas pemerintah,” ujar Ngatiyana.

Lebih jauh, Ngatiyana menekankan literasi tidak boleh dipandang sebatas kemampuan membaca. Literasi, kata dia, juga harus menyatu dengan upaya melestarikan budaya lokal.

“Guru dan sekolah diminta mengintegrasikan pengenalan kearifan lokal dalam aktivitas membaca, agar identitas daerah tetap hidup di tengah era digital,” bebernya.

Baca Juga:Lewat Program Literasi Kebangsaan, GP Ansor Ajak Pemuda Cimahi Perkuat Identitas PancasilaBawaslu RI Ajak Pemuda dan Mahasiswa Jadi Agen Literasi Informasi Pemilu di Bandung Barat

Tahun ini, dua siswa bahkan mencapai level tertinggi Ultimate CRH dengan lebih dari 210 buku.

“Prestasi ini membuktikan bahwa dengan pembinaan yang tepat, anak-anak kita memiliki kemampuan luar biasa,” sambung Ngatiyana.

Selain fokus pada buku fisik, Pemkot Cimahi juga beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sejumlah inovasi berbasis teknologi dihadirkan, mulai dari pojok digital di sekolah, aplikasi e-Lab Cimahi, mobil perpustakaan keliling, hingga program Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) dan Kotak Literasi Warga Cimahi (Kolwaci).

0 Komentar