Setda Jabar Dorong Putus Rantai Kemiskinan Lewat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Keluarga

Setda Jabar, Herman Suryatman saat Mengunjungi SRT 17 Cimahi (Mong)
Setda Jabar, Herman Suryatman saat Mengunjungi SRT 17 Cimahi (Mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan komitmennya dalam memutus rantai kemiskinan melalui program pendidikan berbasis boarding school yang terintegrasi dengan pemberdayaan keluarga miskin.

Langkah ini dipandang strategis karena tidak hanya mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan, tetapi juga mengupayakan peningkatan kualitas hidup orang tua mereka.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman menyampaikan, hingga saat ini pihaknya terus mendorong kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk memastikan efektivitas program tersebut.

Baca Juga:Bukan Sebatas Wadah Solidaritas, 234 SC Buktikan Aksi Sosial Nyata Peduli Kemanusiaan Dari Musik Tanaman hingga Fine Dining, Jentik Festival Angkat Gastronomi Nusantara

“Sampai hari ini kami belum mendapatkan informasi, mudah-mudahan anak-anak betah. Ya maklum lah orang lembur, karena ini sangat strategis dan penting untuk memotong rantai kemiskinan. Orang tuanya miskin ya gimana, tentu kami juga akan mendorong agar orang tuanya juga diberdayakan,” ungkapnya belum lama ini.

Ia mencontohkan program serupa yang telah berjalan di Sumedang, di mana pendekatan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya kepada anak-anak tetapi juga kepada orang tua mereka.

“Seperti di Sumedang kemarin, selain anak-anaknya dipersiapkan menjadi pemimpin, orang tuanya diberikan stimulus rehabilitasi rumah tidak layak huni. Nanti di sini juga kami akan dorong kerja sama dengan Kabupaten/Kota, selain anaknya dipersiapkan menjadi pemimpin, keluarganya juga didorong untuk keluar dari garis kemiskinan,” tegasnya.

Program boarding school ini dipandang sebagai instrumen penting dalam membentuk pola pikir anak-anak agar terbebas dari mentalitas kemiskinan yang diwariskan.

“Nah, dengan mereka boarding di sini, tentu pola pikir miskin atau hal-hal lain yang bisa memantik kemiskinan di sini bisa diedukasi. Mereka dipersiapkan menjadi pemimpin yang punya mental model jauh lebih baik dari orang tuanya,” jelasnya.

Namun, ia menekankan bahwa proses pendidikan ini tidak bisa dilakukan secara instan dan harus mengikuti mekanisme yang terukur.

“Tentu nanti kita cek mekanismenya, tentu tidak serta-merta. Apabila tak terhindarkan, kami akan berikhtiar, karena ini untuk mereka, untuk anak-anak, agar menjadi pemimpin. Kami akan ikhtiarkan untuk diedukasi sedemikian rupa. Namanya juga anak-anak, kita upayakan untuk tidak keluar,” tambahnya.

0 Komentar