Dengan terus bersyukur dengan merawat situasi dan kondisi ini, insya Allah, Allah subhanahu wata’ala akan memasukkan kita ke dalam orang-orang yang pandai bersyukur dan kenikmatan ini akan terus ditambah oleh Allah subhanahu wata’ala. Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat–Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”
Dan begitu juga doa Nabi Ibrahim dalam surat Ibrahim ayat 35 yang banyak dinukil dan dibacakan pada setiap malam tirakat untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia ini,
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا
Baca Juga:Kolaborasi Bio Farma dan Garuda Indonesia: Perkuat Ketahanan Kesehatan NasionalDimulai Hari Ini! EIGER Buka Kompetisi Panjat Tebing EISCC 2025
“…Ya Rabb, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman.”
Akan tetapi sungguh sangat disayangkan hampir kebanyakan nukilan tersebut berhenti sampai di kalimat itu saja, padahal pada ayat tersebut ada kalimat lanjutan yang sangat urgen sekali, apakah lanjutan dari doa tersebut?
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“…dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.”
Artinya, jika kita memang menginginkan makna kemerdekaan sebagaimana dimaksud dalam doa nabi Ibrahim tersebut, maka membebaskan diri rakyat negeri ini dari perbuatan syirik adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari makna kemerdekaan.
Namun realitanya saat ini praktik syirik masih ada, bahkan kesyirikan tersebut sudah berani muncul terang-terangan, diliput dan dipublikasikan melalui media massa dan sosial media, yang menandakan negeri ini masih belum baik-baik saja. Dalam makna lain, belum dapat merealisasikan hakikat dari kemerdekaan itu sendiri.
Ma’asyiral Muslimin, sidang jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Lalu apa hakikat dari makna kemerdekaan?
Jauh sebelum negara ini mengenal kata merdeka 78 tahun silam, Islam yang datang 14 abad lebih awal sudah mengumandangkan seruan kebebasan, kemerdekaan, serta keadilan.
Baca Juga:Berapa Lama Bansos KAJ Cair Setelah Dapat Kartu ATM? Simak Jadwal dan Cara Pencairan di SiniAplikasi Ristecar Wajibkan Member Bayar Rp500.000, Apakah Penarikan Bisa Normal Lagi?
Kita bisa lihat kembali tinta sejarah Islam, bagaimana agama ini menentang perbudakan, penindasan, dan kesyirikan. Ayat-ayat keadilan sosial Allah turunkan pada fase awal, mengisyaratkan bahwa Islam menolak praktik perbudakan dan penghambaan kepada sesama makhluk. Islam datang untuk melepas itu semua.
