5 Alasan Merah Putih: One For All Jadi Film Animasi Indonesia Terburuk

Film Animasi Merah Putih: One For All
Film Animasi Merah Putih: One For All
0 Komentar

1. Bendera Tiba-Tiba Hilang

Ceritanya dimulai dari acara kumpul warga di desa untuk persiapan 17 Agustus. Entah bagaimana, bendera tiba-tiba hilang. Lalu, tanpa penjelasan yang jelas, sekelompok anak-anak sudah berada di sebuah gudang berisi senjata. Sebelumnya memang ada adegan sekelompok tentara memegang senjata di panggung, seperti sandiwara, tapi penyampaiannya aneh dan terasa konyol.

Kemudian, anak-anak ini disuruh mencari bendera tersebut. Anehnya, mereka malah mencarinya di hutan, dan hampir seluruh film dihabiskan di sana. Bayangkan, kalau trailernya hanya dua menit, di film ini selama lebih dari satu jam isinya percakapan tidak penting di hutan.

2. Percakapan Bahasa Inggris Hasil AI

Tiba-tiba, di tengah perjalanan, adegan berpindah ke sebuah desa. Di desa ini ada tiga tokoh antagonis yang terlihat seperti preman, seperti yang sudah muncul di trailer. Lalu, tanpa alasan yang jelas, muncul seorang bapak-bapak yang berbicara dalam bahasa Inggris, terdengar seperti hasil terjemahan Google Translate atau AI.

Baca Juga:4 Prinsip Membangun Passive Income Agar Bisa Menghasilkan Uang Sambil Tidur NyenyakMasalah Umum Honda Jazz dan Cara Mengatasinya, dari GD3 sampai GK5

Muncullah seorang bule yang ingin membeli burung dari tiga preman tersebut. Saat bertanya harga, mereka mengatakan Rp200.000. Si bule lalu berkata bahwa jika mereka bisa menangkap burung tertentu (sambil menunjukkan gambar), ia akan membayar Rp100 juta. Preman-preman itu pun tergiur, lalu adegan kembali berpindah ke hutan.

3. Dialog dan Efek Suara yang Berlebihan

Di hutan, dialog antar anak-anak tidak nyambung. Ada yang terpeleset, ada yang sakit perut karena makan buah sembarangan, lalu ada adegan kentut dengan efek suara berlebihan yang memenuhi bioskop. Mereka kemudian bertemu monyet dan bisa berkomunikasi dengannya. Ada juga kambing yang entah mengapa tiba-tiba muncul.

Akhirnya, mereka menemukan burung di dalam kandang, burung yang sama seperti di trailer. Bedanya, kali ini suaranya sudah diganti menjadi suara burung, bukan monyet.

Sisanya tetap di hutan, penuh percakapan aneh seperti, “Wah, pemandangannya bagus,” lalu tiba-tiba berkata, “Ih, kok serem, ya?” Diselingi lawakan yang tidak lucu, misalnya, “Kaburnya kayak kecoa dikejar LPG.”

4. Cerita Lompat-Lompat Tak Jelas

0 Komentar