4 Prinsip Membangun Passive Income Agar Bisa Menghasilkan Uang Sambil Tidur Nyenyak

4 Prinsip Membangun Passive Income
4 Prinsip Membangun Passive Income
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Hidup dari pendapatan pasif (passive income) adalah impian banyak orang. Banyak yang ingin meraih kebebasan finansial dan hidup dari hasil investasi tanpa harus terus bekerja seumur hidup. Dengan konsep the 4% rule, perhitungannya menjadi sederhana, jumlah aset yang dibutuhkan sama dengan pendapatan pasif bulanan × 12 ÷ 4%.

Sebagai contoh, jika Anda menginginkan pendapatan pasif sebesar Rp10 juta per bulan, berarti Anda memerlukan aset sekitar Rp3 miliar yang dapat menghasilkan uang, bahkan ketika Anda tidak lagi bekerja.

Namun kenyataannya, membangun pendapatan pasif tidak semudah kelihatannya. Banyak orang gagal karena salah langkah sejak awal. Jika Anda ingin memiliki pendapatan pasif yang benar-benar bisa dinikmati dalam jangka panjang, hindari empat kesalahan berikut. Salah satunya bisa membuatmu rugi puluhan juta rupiah, dan kami tidak ingin Anda mengalami hal yang sama.

Baca Juga:5 Rekomendasi Mobil untuk Mahasiswa dan Pengemudi PemulaCara Membersihkan NIK KTP di SLIK OJK agar Bisa Mengakses Pinjol Kembali

4 Prinsip Pendapatan Passive (Passive Income)

1. Jangan Mengejar Imbal Hasil Tinggi Tanpa Memahami Risiko

Banyak orang masuk ke dunia investasi karena tergiur janji imbal hasil yang tinggi. Ada yang mengklaim bisa memberikan 20% per bulan, bahkan menjanjikan pengembalian modal hanya dalam hitungan minggu. Jujur saja, di awal saya pun hampir tergoda.

Memang ada produk yang menawarkan imbal hasil cepat. Broker terlihat meyakinkan, angka-angka menggiurkan, dan testimoni tampak memvalidasi. Namun pada akhirnya, modal justru tidak kembali. Hingga sekarang pun, entah ke mana uang itu hilang.

Beberapa tahun lalu sempat marak fenomena “untung cepat” dari robo trading, seperti DNA Pro, Fahrenheit, Viral Blast, dan lainnya. Semuanya menjanjikan imbal hasil puluhan persen per bulan, bahkan ada yang mengklaim 1% per hari. Awalnya terlihat aman, bahkan bisa dicoba dengan nominal kecil. Tetapi setelah banyak korban menyetor uang, ujungnya tetap sama, server “rusak”, terkena margin call, atau dana tidak bisa ditarik. Prinsipnya sederhana: If it is too good to be true, then it probably is.

Imbal hasil tinggi selalu diiringi risiko tinggi. Bahkan yang terlihat masuk akal pun bisa menipu. Contohnya, kasus legendaris Bernard Madoff (Ponzi scheme terbesar dalam sejarah) yang menjanjikan “hanya” 10% per tahun. Di Indonesia, ada pula Koperasi Indosurya yang memberikan bunga 9–12% per tahun, tetapi berakhir dengan kerugian triliunan rupiah dan ribuan korban.

0 Komentar