Setelah lama berjalan, mereka menemukan sebuah rumah milik seorang tetua desa. Tetua itu mengatakan ada bendera cadangan yang ia simpan, tetapi mereka harus berhati-hati saat mengambilnya. Ia pun memberikan sebuah peta.
Anak-anak mengikuti peta itu dan akhirnya sampai di lokasi seperti yang ada di trailer, dengan pilar-pilar berhias patung menyeramkan, mirip adegan Indiana Jones. Di sana mereka menemukan sebuah peti, yang ternyata berisi bendera.
Bendera tersebut dijaga oleh tiga tokoh antagonis, entah mengapa mereka bisa berada di sana. Mereka mengancam, “Kalau kalian ingin bendera ini, kembalikan burung yang tadi kalian lepaskan, atau ganti rugi sebesar Rp100 juta.”
Baca Juga:4 Prinsip Membangun Passive Income Agar Bisa Menghasilkan Uang Sambil Tidur NyenyakMasalah Umum Honda Jazz dan Cara Mengatasinya, dari GD3 sampai GK5
Anehnya, anak-anak itu menanggapi dengan, “Baik, kami diskusikan dulu.” Lalu, adegan berpindah kembali ke hutan. Di sana, tiba-tiba salah satu anak berkata, “Ayo kita kumpulkan sekian juta rupiah.” Dialog ini sama sekali tidak masuk akal.
Hasil diskusi mereka adalah mereka tidak mau membayar, tidak mau mengembalikan burung, melainkan ingin “nge-prank” para pemburu. Kata “prank” ini benar-benar diucapkan dalam dialog film.
Rencana prank mereka melibatkan monyet yang entah bagaimana bisa mereka ajak berkomunikasi. Monyet itu melemparkan sesuatu, tidak jelas tanah atau kotoran, ke arah para penjahat, sehingga mereka kabur. Lalu, tiba-tiba, anak-anak ini juga bisa menyuruh kambing untuk menyeruduk penjahat hingga terperosok ke lumpur isap.
5. Aset Pendukung Melayang di Udara
Akhirnya, para penjahat meminta maaf dan mengembalikan bendera. Anak-anak pun kembali ke desa, mengibarkan bendera tersebut, dan upacara bendera dimulai. Namun, ternyata bendera tidak naik. Kepala desa heran, lalu salah satu anak memanjat tiang bendera secara manual. Warga desa bertepuk tangan, anehnya, sebagian warga terlihat “melayang” di udara, tidak menginjak tanah.
Film diakhiri dengan layar penuh bendera merah putih, lagu Indonesia Raya berkumandang, lalu ditampilkan kilas balik adegan-adegan tidak penting di hutan.
Jalan ceritanya benar-benar tidak masuk akal. Bendera yang hilang bukanlah bendera istimewa; yang digunakan untuk upacara adalah bendera cadangan yang diberikan oleh seorang tetua desa. Singkatnya, ceritanya seperti ini:
