JABAR EKSPRES – Honda Jazz adalah salah satu mobil yang nyaman dikendarai, namun sayangnya sudah “disuntik mati” oleh ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek), dalam hal ini Honda. Hingga sekarang pun belum jelas mobil apa yang akan dirilis untuk menggantikannya.
Bahasan Honda Jazz dari generasi awal sampai generasi terakhir di Indonesia, baik versi manual maupun matic, termasuk kelebihan dan kekurangannya, cukup menarik. Kami pribadi memang cukup menyukai Honda Jazz.
Evolusi Mesin Honda Jazz di Indonesia
Honda Jazz di Indonesia telah melalui beberapa perubahan mesin sejak generasi pertama hingga terakhir, sekitar empat kali pembaruan:
Mesin awal – Mesin standar tanpa teknologi khusus.
Baca Juga:5 Rekomendasi Mobil untuk Mahasiswa dan Pengemudi PemulaCara Membersihkan NIK KTP di SLIK OJK agar Bisa Mengakses Pinjol Kembali
Mesin i-DSI – Menurut saya, ini mesin yang paling kurang memuaskan. Alasannya, meskipun hanya 4 silinder, setiap silinder punya 2 busi (total 8 busi) dan 8 koil. Artinya, biaya perawatan lebih mahal, tetapi tidak memberikan tenaga tambahan atau efisiensi bahan bakar yang signifikan.
- Mesin 1.5 liter generasi awal – Peningkatan tenaga dibanding i-DSI, lebih responsif dan cocok untuk penggunaan harian.
- Mesin 1.5 liter generasi terbaru – Teknologi dan efisiensinya ditingkatkan lagi, performa lebih baik dan responsif, terutama di varian RS.
Pendapat Tentang Honda Jazz dan Masalah yang Sering Muncul
Menurut kami, semua mobil Honda pada zamannya memiliki keunggulan masing-masing. Hanya saja, yang paling tidak saya sukai adalah varian i-DSI. Selain mesinnya, transmisi matic-nya (khususnya tipe AT) punya konstruksi yang rumit dan sulit diperbaiki. Perawatannya hanya sebatas mengganti oli, karena filter oli transmisinya tidak bisa diganti.
Untuk tipe CVT, masalah yang sering muncul adalah performa yang lemot, belt bisa putus, dan biaya perbaikan yang tidak murah.
Kelebihan Transmisi Manual
Kami pribadi lebih suka Jazz dengan transmisi manual. Mobilnya enak dikendarai, kompak, dan cocok untuk digunakan di kota besar seperti Jakarta yang memiliki jalanan sempit. Jazz bisa menemani penggunanya dari masa bujang, pacaran, menikah, hingga punya anak satu.
Harga spare part tergolong standar, tidak mahal.
