“Ketika ada pembangunan di Cimahi, tidak ada alasan lagi menggunakan tenaga kerja luar, karena kita sudah siapkan tukang bersertifikat dari Cimahi sendiri,” tegas Asep.
Selain itu, Disnaker mencatat bahwa 2025 1.200 peserta pelatihan, sementara tahun 2024 sebanyak 1.600 warga telah mengikuti berbagai pelatihan kerja.
Artinya, sekitar 80 persen di antaranya telah bekerja di sektor sesuai pelatihan, seperti barista di kafe lokal, penjahit di perusahaan garmen, dan tenaga housekeeping di jaringan hotel nasional.
Baca Juga:Banyak Kawasan Industri, Pengusaha Australia Didorong Investasi di Jawa Tengah Newcastle Resmi Gaet Malick Thiaw dari AC Milan, Kontrak Empat Tahun
Sementara itu, kata Kepala Seksi Transmigrasi dan Pelatihan, Andri Gunawan, menekankan motivasi peserta menjadi faktor kunci keberhasilan program.
“Keinginan yang kuat adalah modal utama. Inovasi akan muncul ketika peserta memiliki niat, dan kami menyesuaikan materi pelatihan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat terhadap pelatihan ini cukup tinggi. Dalam empat hari pendaftaran, 172 orang mendaftar, namun keterbatasan anggaran mengharuskan kuota dibatasi.
“Peserta yang tidak lolos seleksi diarahkan untuk mengikuti pelatihan lain yang diselenggarakan Disnaker,” ujar Andri.
Andri juga mengingatkan, peserta diharapkan memanfaatkan sertifikat profesi untuk membuka peluang kerja di seluruh wilayah Indonesia, tidak terbatas di Cimahi.
Ia menegaskan pentingnya pelaporan kepada Disnaker setelah mendapatkan pekerjaan, agar data penyerapan tenaga kerja dapat terus diperbarui.
“Dengan adanya sertifikasi ini, kita tidak hanya menekan angka pengangguran, tetapi juga meningkatkan daya saing tenaga kerja Cimahi di tingkat nasional,” pungkasnya. (Mong)
