Tumpeng Disebut Tradisi Agama Lain, Ini Hukumnya Jika Digunakan Untuk Agustusan 

ILUSTRASI Nasi Tumpeng yang disebut tradisi agama lain.
ILUSTRASI Nasi Tumpeng yang disebut tradisi agama lain.
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tradisi membuat nasi tumpeng untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI sudah dilakukan sejak nenek moyang kita, namun akhir-akhir ini, ada yang menyebut bahwa nasi tumpeng merupakan tradisi agama lain.

Lalu bagaimana kita sebagai umat Islam jika masih melakukan tradisi tersebut? apakah akan berdosa karena dinilai bertasyabuh atau menyerupai kaum agama lain?

Kita akan membahas secara mendalam termasuk pendapat ulama terkait nasi tumpeng ini.

Baca Juga:Puluhan Ide Hadiah Lomba 17 Agustus Murah dan Dijamin BerkesanBenarkah Aplikasi Risetcar Positif SCAM Hari ini?  Cek Buktinya 

Dilansir dari laman hindualukta.com dalam kitab manawa Dharma Sasra Wedha Smrti, disebutkan bawa bagi orang yang berkasta rendah dan tidak bisa membaca kalimat persaksian dalam bahasa sansekerta, maka sebagai pengantinya mereka cukup membuat tumpeng.

Bentuk segitiga pada tumpeng diyakini melambangkan perwujudan dari 3 dewa agama tersebut, yakni Shiwa, Vishnu dan Brahma : Brahman.

Nasi tumpeng sudah sangat lazim digunakan untuk berbagai acara syukuran atau selamatan termasuk untuk perayaan Tirakatan di malam 17 Agustus setiap tahunnya.

Penyajiannya menyerupai gunungan nasi dalam bentuk kerucut yang dilengkapi dengan aneka lauk dan pelengkap yang mengelilinginya. Warga akan menggunakan nasi tumpeng ini untuk makan bersama dan mempererat kerukunan antar warga.

Lalu bagaimana jika ternyata tradisi nasi tumpeng ternyata berasal dari ibadah agama lain? apakah umat muslim yang masih tetap melakukannya akan berdosa? Mengingat ada beberapa dalil yang bisa dikaitkan dengan hal ini,:

“Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan”. (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya).(HR Abu dawud , an-Nasa’i, Ahmad).

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. Qs. Al-Baqarah:208).

Baca Juga:Raih Saldo DANA Gratis Rp80.000 Edisi Khusus 80 Tahun Kemerdekaan RI, Cek Cara Klaimnya di SiniAplikasi RisetCar Gagal WD, Benarkah Sudah SCAM?

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)

0 Komentar