JABAR EKSPRES – Kali ini, kita akan membongkar kecurangan yang kerap dilakukan oleh oknum penjual mobil bekas yang tidak jujur. Perlu ditegaskan, tidak semua penjual atau showroom mobil bekas bersikap demikian. Banyak juga penjual yang jujur dan menawarkan mobil dalam kondisi sangat baik.
Jadi, jangan langsung beranggapan bahwa mobil berkualitas hanya bisa didapatkan jika membeli baru. Faktanya, banyak mobil bekas yang kondisinya masih sangat bagus.
Perbedaan harga mobil bekas biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jarak tempuh (kilometer) dan kondisi keseluruhan mobil, apakah masih lengkap dan terawat atau tidak. Mobil dengan kilometer rendah umumnya memiliki harga lebih tinggi dibanding mobil dengan kilometer tinggi.
Baca Juga:Bukan Karena Uang, Indonesia Miskin Karena Krisis Integritas dan KemunafikanJangan Salah Pilih Pasangan Lagi! Pahami Dulu Gaya Keterikatanmu
Namun, ada oknum penjual yang mencari keuntungan besar dengan modal sekecil mungkin. Salah satu trik curang yang sering digunakan adalah membeli mobil dengan kilometer tinggi, lalu menurunkan angka kilometernya (mereset odometer) agar terlihat seperti mobil dengan pemakaian ringan. Dengan begitu, nilai jual mobil tersebut menjadi lebih tinggi dari seharusnya.
Praktik seperti ini cukup sering ditemukan. Meski begitu, penting untuk diingat bahwa tidak semua showroom atau penjual mobil melakukan hal tersebut.
Cara Mencegah Tertipu Oknum Penjual Mobil Bekas
Ada banyak penjual yang tetap menjunjung kejujuran dan menjual mobil bekas dalam kondisi sesuai fakta. Sayangnya, oknum-oknum nakal ini merugikan pembeli sekaligus mencoreng nama baik para penjual yang berbisnis secara jujur.
Masih banyak penjual mobil yang jujur. Namun, sebagian pemain di pasar mobil bekas kerap melakukan praktik curang berupa memanipulasi atau mereset angka kilometer. Sekilas, praktik ini terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa sangat fatal bagi pembeli.
1. Cek Jumlah Kilometer
Misalnya, sebuah mobil seharusnya memiliki jarak tempuh 200.000 km. Namun, oleh oknum penjual, angka tersebut diputar turun menjadi 130.000 km atau bahkan 100.000 km. Bagi pembeli, angka kilometer rendah ini memberi kesan bahwa mobil masih jarang digunakan dan akan membutuhkan perawatan besar dalam waktu yang lebih lama.
Padahal, pada mobil dengan transmisi matic tipe CVT, jarak tempuh 200.000 km biasanya sudah memasuki tahap perawatan komponen penting, seperti steel belt. Jika angka kilometer dimanipulasi menjadi hanya 120.000 km, pembeli akan mengira masih ada waktu panjang sebelum komponen tersebut perlu diganti. Akibatnya, setelah mobil digunakan beberapa bulan, belt tersebut bisa saja rusak atau jebol lebih cepat dari perkiraan, dan biaya perbaikannya tidak sedikit.
