Bukan Karena Uang, Indonesia Miskin Karena Krisis Integritas dan Kemunafikan

Indonesia Miskin Karena Krisis Integritas dan Kemunafikan
Indonesia Miskin Karena Krisis Integritas dan Kemunafikan
0 Komentar

Lebih menyedihkan lagi, di dalam kampus pun sebagian dari mereka seringkali memamerkan idealisme. Namun, saat tugas kelompok tidak pernah berkontribusi, giliran presentasi justru menghilang. Ketika ujian, menyontek. Namun saat demonstrasi, lantang meneriakkan “anti korupsi.” Padahal, jika di ruang kelas saja tidak jujur, bagaimana mungkin bisa melawan ketidakjujuran yang lebih besar di negeri ini?

Ada pula yang gemar berperan sebagai “oposisi kampus”. Setiap kebijakan ditolak mentah-mentah, tanpa pernah menawarkan solusi. Semua dianggap salah, semua dinilai busuk, kecuali dirinya sendiri. Pola pikir seperti ini berbahaya, karena merasa paling benar, paling suci, dan paling memahami persoalan negara. Namun, ketika diajak berdiskusi soal kebijakan publik, yang keluar hanyalah kutipan dari media sosial.

Jika tipe seperti ini kelak menjadi pemimpin, bukan tidak mungkin negara hanya akan dipenuhi perdebatan tanpa tindakan. Lebih buruk lagi, banyak dari mereka yang tak menyadari bahwa sebenarnya mereka hanya menjadi alat politik, digerakkan oleh elit untuk kepentingan tertentu. Mereka merasa sedang memperjuangkan idealisme, padahal hanya pion dalam permainan yang lebih besar.

Baca Juga:Berhenti Berhemat, Ini 7 Cara Realistis Dapat Rp1 Miliar Pertama Tanpa Warisan4 Cara Mendapatkan Rp100 Juta Pertama Tanpa Modal yang Bisa Anda Coba Sekarang

Karena itu, ketika kita mengatakan bahwa harapan bangsa ada di tangan generasi muda, pertanyaannya adalah: generasi muda yang mana? Apakah yang benar-benar memahami masalah dan mencari solusi, atau yang hanya pandai berorasi namun malas membaca?

Jika mahasiswa hari ini hanya piawai berteriak tanpa aksi nyata, maka bersiaplah, 20 tahun ke depan negeri ini bisa dipimpin oleh mantan aktivis yang kerjanya hanya pencitraan. Padahal, bangsa ini butuh lebih dari sekadar suara lantang. Kita butuh akal yang tajam, hati yang jernih, dan tangan yang mau kotor bekerja. Bukan sekadar mengangkat poster.

Akhirnya, kita sampai pada kenyataan yang menyakitkan, Indonesia bukan negara miskin karena kekurangan sumber daya. Negeri ini kaya, yang kurang adalah pengelolaan yang benar. Kita bukan sedang mengalami krisis uang, tetapi krisis integritas. Dan yang lebih parah, bukan hanya elit yang korup, tetapi sebagian rakyat pun ikut menjadi bagian dari kebusukan itu.

0 Komentar