Ironisnya, orang yang sama kemudian berteriak di media sosial, menuntut pemerintah karena jalan rusak tak kunjung diperbaiki, padahal dialah pelakunya yang mencuri baut tiang lampu.
Bagaimana mungkin fasilitas umum bisa bertahan dalam kondisi seperti itu? Di beberapa daerah, pemerintah bahkan harus mengecor baut dengan semen agar tidak bisa dicongkel. Bayangkan, betapa seringnya pencurian terjadi sampai negara harus memikirkan cara “anti-maling” untuk membaut tiang.
Dan ini bukanlah masalah kecil. Ini efek domino. Infrastruktur yang rusak menghambat aktivitas ekonomi. Ketika ekonomi mandek, investor enggan masuk. Akhirnya, rakyat semakin miskin. Semua itu bisa berawal dari satu orang yang menjual besi curian hanya demi membeli rokok.
Baca Juga:Berhenti Berhemat, Ini 7 Cara Realistis Dapat Rp1 Miliar Pertama Tanpa Warisan4 Cara Mendapatkan Rp100 Juta Pertama Tanpa Modal yang Bisa Anda Coba Sekarang
Namun, persoalannya tidak berhenti di pencurian besi. Perilaku sebagian warga juga mencerminkan kekacauan pola pikir yang cukup serius. Banyak yang berutang ke sana kemari demi mempertahankan gaya hidup, bahkan lebih percaya pada ramalan zodiak daripada perencanaan keuangan.
Tak sedikit yang berpikir, “Hidup hanya sekali,” lalu nekat kredit motor tiga unit demi konten TikTok, sementara untuk makan sehari-hari harus berutang di warung. Hidup pun bergulir dari cicilan ke cicilan, bekerja keras membayar barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Ketika ditagih utang, mereka menghilang. Dan ketika dikejar rentenir, mereka berteriak, “Negara harus melindungi rakyat miskin!” Padahal, kemiskinan itu mereka ciptakan sendiri.
Ada pula yang rela menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak penting, tapi marah ketika harga bahan pokok naik. Gawai yang dipakai adalah iPhone keluaran terbaru, padahal pekerjaannya serabutan. Sepatunya bermerek mahal, tetapi kamar mandinya menumpang di musala. Demi pencitraan, rela berpuasa sebulan asal bisa pamer di media sosial. Hidup menjadi ajang berpura-pura kaya, sementara saldo di rekening tinggal batas minimal.
Semua ini bukan semata-mata soal ekonomi. Ini persoalan pola pikir. Dalam psikologi finansial, jika seseorang tidak memahami nilai uang dan tidak tahu cara mengelolanya, sekarung uang pun akan habis tanpa arah. Akhirnya, kita kembali menyalahkan “kemiskinan struktural”, padahal sering kali yang membuat kita miskin adalah kebodohan kolektif yang dibiarkan tumbuh subur: gaya hidup di luar kemampuan, malas belajar soal keuangan, dan mudah terjebak rayuan diskon atau cicilan tanpa pertimbangan.
