Bayangkan, di negara dengan pendapatan rata-rata sekitar empat juta rupiah per bulan, masyarakatnya justru memiliki pengeluaran seperti bangsawan. Dan ketika jatuh miskin, mereka terkejut.
Yang lebih menyedihkan, ketika sistem sudah rusak, rakyat pun ikut bebal.
Siapa yang mampu memperbaiki semua kekacauan ini? Mungkin harapan terakhir memang berada di pundak generasi muda, bukan semata-mata pada anak-anak kampus yang sering disebut sebagai “agen perubahan.” Tapi pertanyaannya, apakah mahasiswa masa kini masih bisa diandalkan? Atau jangan-jangan mereka justru telah menjadi bagian dari drama besar bernama negara setengah gagal?
Baca Juga:Berhenti Berhemat, Ini 7 Cara Realistis Dapat Rp1 Miliar Pertama Tanpa Warisan4 Cara Mendapatkan Rp100 Juta Pertama Tanpa Modal yang Bisa Anda Coba Sekarang
Dulu, mahasiswa begitu ditakuti oleh para penguasa. Mereka turun ke jalan bukan untuk sekadar gaya, melainkan untuk mengubah sejarah. Tahun 1998 adalah bukti nyata: mereka berhasil meruntuhkan rezim Orde Baru dengan idealisme dan keberanian. Tapi bagaimana dengan mahasiswa sekarang?
Memang, mereka masih turun ke jalan. Namun, jangan kaget jika setelah berorasi, langsung memperbarui Insta Story dengan caption “perjuangkan nasib rakyat” ditambah filter wajah glowing. Ini demonstrasi atau syuting FTV?
Terus terang, semakin ke sini, arah gerakan mahasiswa terlihat makin kabur. Teriakan reformasi bersanding dengan gelas boba di tangan. Spanduk besar bertuliskan “Turunkan Harga” dibawa sambil dompet berisi e-money untuk belanja skincare. Bukan berarti semua mahasiswa kehilangan arah, masih banyak yang waras, yang serius belajar, melakukan riset, dan menjadi bagian dari solusi.
Namun sayangnya, yang lebih sering terlihat di media adalah mereka yang seolah menjadikan demonstrasi sebagai rutinitas mingguan tanpa substansi yang jelas. Tema berubah-ubah mengikuti tren: hari ini soal kenaikan harga BBM, besok karena ujian akhir terlalu sulit, lusa karena cinta ditolak kakak tingkat, semuanya dijadikan alasan untuk turun ke jalan.
Yang paling menggelikan, tuntutan mereka pun kadang terdengar absurd: “Turunkan harga sembako!”, “Copot menteri ini!”, lalu ditutup dengan, “Hapuskan kuliah pagi!”, yang terakhir itu jelas hanya kepentingan pribadi.
Jangan salah sangka. Beberapa dari mereka yang turun ke jalan sebenarnya tidak sepenuhnya memahami apa yang mereka suarakan. Ketika ditanya tentang isi pasal yang ditolak, jawabannya, “Saya belum baca sih, tapi katanya tidak pro rakyat.” Jadi, mereka berdemo hanya berdasarkan “katanya”? Itu bukan bentuk aktivisme, itu hanya ikut-ikutan massal.
