Pemkot Cimahi Lestarikan Warisan Kolonial, 50 Bangunan Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Pemkot Cimahi Lestarikan Warisan Kolonial, 50 Bangunan Diusulkan Jadi Cagar Budaya
Siswa saat melakukan kunjungan ke tempat bersejarah di Kota Cimahi. (Dok. Firman Satria)
0 Komentar

“Tak hanya menerjemahkan, beliau juga aktif mengedukasi generasi masa kini yang ingin belajar tentang aksara Sunda kuno,” kata Achmad.

Sebagai bentuk regenerasi, Disbudparpora bahkan telah menggelar pembelajaran aksara Sunda kuno dan berencana menjadikannya sebagai materi ekstrakurikuler di sekolah-sekolah.

Program ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC).

Baca Juga:Komis I DPRD Jabar Prihatin atas Fenomena Barbar Media Sosial, Kritik KPID hingga Langkah DiskominfoBPBD Catat 3.373 Jiwa Terdampak Kekeringan di Kabupaten Bogor, 45.000 Liter Air Telah Didistribusikan

“Tahun ini, kami bekerja sama dengan DKKC untuk menyosialisasikan kembali aksara Sunda kuno kepada anak-anak dan remaja,” katanya.

Disbudparpora juga telah memulai langkah konkret dengan merealisasikan penggunaan aksara Sunda kuno di beberapa tempat, termasuk penulisan di Etalase Wicara Cagar (Ewic) yang dibuat oleh Abah Yudistira, serta rencana penamaan jalan-jalan di Kota Cimahi dengan aksara Sunda kuno.

Namun, Achmad mengakui masih ada tantangan, terutama minimnya minat dari kalangan remaja untuk mempelajari aksara tradisional ini.

“Kita mesti memiliki tempat strategis untuk memberikan pembelajaran. Salah satunya menjadikan aksara Sunda sebagai ekstrakurikuler di sekolah. Tentunya ini harus melibatkan Dinas Pendidikan agar pelaksanaannya berjalan baik,” ujarnya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya penyeragaman tulisan aksara Sunda kuno, karena tiap wilayah memiliki perbedaan dalam gaya penulisannya. (Mong)

Reporter: Firman Satria

0 Komentar