JABAR EKSPRES – Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) memastikan bahwa kematian belasan ekor sapi di wilayah Lembang bukan disebabkan oleh penyakit menular.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dispernakan Bandung Barat, Acep Rohimat, menjelaskan, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa sapi-sapi tersebut tidak terjangkit penyakit seperti penyakit mulut dan kuku (PMK).
“Hasilnya sudah keluar, baik untuk antigen penyakit mulut dan kuku maupun pemeriksaan kimia darah. Clear, aman, tidak ada penyakit,” kata Acep saat dikonfirmasi, Jumat (1/8/2025).
Baca Juga:DPD RI Soroti Tantangan Pembangunan Kota Banjar, Janjikan Pendampingan Hingga PusatDPD RI Soroti Tantangan Pembangunan Kota Banjar, Janjikan Pendampingan Hingga Pusat
Menurutnya, dari hasil pemeriksaan darah dan investigasi lapangan, sapi-sapi yang mati diketahui mengalami kekurangan kalsium dan energi, terutama pada masa bunting dan setelah melahirkan. Selain itu, ditemukan pula benda asing di dalam perut beberapa sapi yang mati.
“Dari laporan petugas ke Keswan KPSBU saat dibedah, ada benda asing di dalam perut sapi, seperti paku dan tambang,” ungkapnya.
Acep menegaskan, tidak ada wabah atau penyakit menular yang menyerang sapi-sapi tersebut. Namun demikian, ia mengimbau para peternak untuk meningkatkan kebersihan kandang serta memastikan asupan nutrisi hewan mencukupi, terutama kalsium untuk sapi bunting.
“Lingkungan kandang harus nyaman dan sehat bagi sapi, sehingga dapat meningkatkan produktivitas. Kemudian harus ada peningkatan biosecurity dan tambahan kalsium yang cukup saat mau melahirkan,” tandasnya.
Sebelumnya, para peternak di Kampung Pojok Girang, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, sempat resah akibat kematian mendadak sapi-sapi mereka. Dalam tiga bulan terakhir, tercatat 16 ekor sapi mati dengan gejala yang tidak biasa.
“Ciri-cirinya kaki sapi bengkak, air susunya nggak keluar. Setelah daging sapi dibelah, organ dalamnya bermasalah, seperti jantung bengkak dan gangguan pada limpa serta paru-paru,” ujar Enok (50), salah seorang peternak.
Menurut Enok, gejala tersebut hanya menyerang sapi betina yang sedang bunting. Ia bahkan kehilangan satu indukan yang mati usai melahirkan. Anak sapi yang baru lahir pun menunjukkan gejala kejang-kejang.
Baca Juga:Harga Pangan Pokok di Bandung Cenderung Stabil Meski Cabai dan Bawang Merah Naik6 Rumah Warga di Ciawi Bogor Hangus Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Karena khawatir kerugian makin besar, sebagian peternak memilih menjual sapi dengan harga murah ke rumah potong hewan. Ada pula yang langsung mengubur sapi mati untuk mencegah kemungkinan penularan.
