JABAR EKSPRES – Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi mendorong pengenalan pangan lokal kepada siswa sejak usia dini.
Dorongan ini muncul sebagai respons terhadap makin maraknya konsumsi makanan ultra proses dan minuman tinggi gula yang banyak beredar di pasaran.
Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata Disbudparpora Kota Cimahi, Lucky Sugih Maulidin, menyebut salah satu pangan lokal khas Cimahi yang patut diperkenalkan kepada generasi muda adalah rasi, atau beras singkong, yang telah diwariskan secara turun-temurun di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan.
Baca Juga:Persib Siap Tempur! Laga Kontra Western Sydney Jadi Ujian Akhir Menuju Musim BaruLucas Paqueta Bebas dari Tuduhan Taruhan, Akhir dari Mimpi Buruk yang Panjang
“Harapan kami tentunya sistem pangan lokal bisa tersosialisasikan ke sekolah. Di kita kan ada seperti beras singkong yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda,” ujar Lucky saat ditemui, Jum’at (1/8/2025).
Lucky menjelaskan, pihaknya bersama Kementerian Kebudayaan secara aktif menggencarkan program penguatan sistem pangan lokal berbasis pendidikan.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat khususnya generasi muda terhadap pentingnya keberlanjutan sistem pangan lokal.
Menurutnya, semakin dini anak-anak diperkenalkan dengan pangan lokal, maka akan semakin besar kemungkinan mereka terbiasa mengonsumsinya.
Ini sekaligus menjadi strategi jangka panjang untuk mendorong diversifikasi pangan dan mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas seperti beras.
“Kita ingin memperkenalkan berbagai jenis pangan lokal, manfaatnya bagi kesehatan, dan peranannya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan melibatkan berbagai pihak, terutama generasi muda, diharapkan sistem pangan lokal dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat,” lanjut Lucky.
Lebih jauh, Lucky menyebut bahwa selain berdampak positif bagi kesehatan, pengenalan rasi juga akan memperkuat semangat pelestarian terhadap warisan budaya yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Baca Juga:Luke Shaw Ungkap Ruang Ganti MU Pernah Toksik, Amorim Hadir Bawa RevolusiBREAKING NEWS! Tom Lembong Dapat Abolisi, Hasto Kristiyanto Terima Amnesti Presiden!
“Jadi Kota Cimahi yang sudah masuk WBTB baru dua, yaitu Rasi dan Acara Seren Taun Kampung Adat Cireundeu yang telah ditetapkan menjadi WBTB tingkat provinsi,” tambahnya.
Rasi sendiri telah menjadi pangan utama masyarakat Kampung Adat Cireundeu sejak 1918. Konsep ini pertama kali dicetuskan oleh Aki Ali, seorang tokoh adat yang pada masa penjajahan Belanda berpikir tentang pentingnya kemandirian pangan bagi warganya.
