Fadli Zon: Impor Gandum Ancam Budaya Pangan Lokal

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menunjukkan kekhawatirannya mengenai tingginya impor gandum, himbau masyarakat
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menunjukkan kekhawatirannya mengenai tingginya impor gandum, himbau masyarakat beralih ke pangan lokal. Instagram/Fadlizon.
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya angka impor gandum di Indonesia, yang dinilainya dapat menggerus kedaulatan pangan dan nilai-nilai budaya lokal.

Hal ini ia sampaikan dalam acara Jambore Pemuda Peduli Pangan Lokal (JPLL) di Kutai Barat, Sabtu (26/7/2025).

Dalam sambutannya, Fadli menyebut bahwa Indonesia mengimpor hingga 12 juta ton gandum setiap tahun, sebagian besar digunakan sebagai bahan baku mi instan.

Baca Juga:Thai Food & Travel Week 2025 Sukses Ramaikan Summarecon Mall BandungMOC Hadirkan Konsep Toko Baru Lebih Elegan Di Paskal Shopping Center Bandung

“Saya sedih melihat ketergantungan ini. Impor besar-besaran seperti ini tidak hanya membebani devisa, tapi juga berdampak pada budaya konsumsi kita,” ujarnya, dikutip dari Jawa Pos, Senin (28/7/2025).Fadli menegaskan bahwa konsumsi pangan impor secara berlebihan dapat mengikis keberagaman pangan lokal. Ia pun mendorong penguatan diversifikasi pangan dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti sorgum, jagung, dan ubi-ubian.

“Kita harus memperkuat diversifikasi agar tidak bergantung pada satu komoditas seperti beras atau gandum. Pangan kita beragam di tiap daerah, dan itu adalah kekayaan budaya kita,” tambahnya.

Fadli juga mengingatkan bahwa selain gandum, Indonesia masih mengimpor beras hingga 3 juta ton per tahun, menunjukkan betapa pentingnya kemandirian pangan dari segi produksi maupun konsumsi.

Pangan Lokal, Budaya, dan Peran Pemuda

Acara JPLL yang digelar oleh Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat, Kementerian Kebudayaan, turut dihadiri oleh Direktur Sjamsul Hadi. Dalam sambutannya, Sjamsul menekankan bahwa pangan lokal dan budaya adalah dua hal yang tak terpisahkan.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya tahu, tapi juga menerapkan akar budaya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui konsumsi pangan lokal,” jelas Sjamsul.Ia menambahkan, kegiatan seperti JPLL juga mendorong lahirnya usaha kecil berbasis pangan tradisional serta membangun jejaring antar komunitas pemuda. Ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 2 (mengakhiri kelaparan) dan poin 12 (produksi dan konsumsi bertanggung jawab).

Dukungan Daerah: Kearifan Lokal untuk Ekonomi Berkelanjutan

Turut hadir dalam acara ini, Bupati Kutai Barat Frederick Edwin, yang menyambut baik kegiatan JPLL dan mendorong pemuda lokal menjadi pelopor dalam melestarikan budaya pangan daerah.

0 Komentar