Di titik ini, kegagalan bukan lagi sekadar persoalan ekonomi, melainkan telah menjadi pola pikir yang merusak.
10. Siklus Berulang yang Tak Pernah Usai
Selama mentalitas ini terus tumbuh tanpa koreksi, sistem yang menindas akan terus berjaya. Pinjol tetap laku, korban tetap bertambah, dan masyarakat akan terus hidup dalam siklus yang mereka anggap “biasa”. Padahal realitanya sangat merusak.
Banyak masyarakat miskin saat ini terjebak dalam jeratan pinjol yang tidak berkesudahan. Mereka meminjam bukan karena keinginan, tetapi karena terpaksa. Di satu sisi, mereka butuh dana cepat untuk kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, utang tersebut justru menumpuk dan memperparah kondisi hidup mereka. Gagal bayar akhirnya dianggap bukan masalah besar, padahal kenyataannya berdampak serius pada kesehatan mental, hubungan keluarga, hingga masa depan finansial.
Baca Juga:Review Infinix Zero 50 5G, Smartphone Terbaik Infinix 2025, Performa Flagship Harga MenengahAdmediaJob hingga AMV, Pola Penipuan Aplikasi Penghasil Uang yang Berulang
Semakin banyak yang gagal bayar, semakin kecil pula rasa takut untuk terjerumus lagi. Dalam kondisi seperti ini, tidak mengherankan jika mentalitas “toh semua juga galbay” semakin melekat dalam masyarakat. Padahal, seharusnya pola pikir ini dibalik. Gagal bayar bukan sesuatu yang wajar, tetapi tanda bahaya yang harus segera diatasi.
Jika tidak ada kesadaran kolektif untuk menyikapi gagal bayar sebagai masalah serius, maka korban-korban baru akan terus bermunculan, dan persoalan pinjol ini tidak akan pernah benar-benar selesai.
