Buntut Kenaikan Pertamax, Jabar Inflasi 0,28 Persen di Juni

Buntut Kenaikan Pertamax, Jabar Inflasi 0,28 Persen di Juni
Petugas mengoperasikan tangki Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi di SPBU Jalan Riau, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) begitu berdampak pada perekonomian Jawa Barat. Hal itu terpotret dari temuan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipublikasikan, Rabu (1/7).

BPS mencatat, Jawa Barat mengalami inflasi sebesar 0,28 persen secara m-to-m pada Juni 2026 yang dipengaruhi beberapa faktor, tapi yang cukup dominan adalah kenaikan BBM.

Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menjelaskan, inflasi di Jawa Barat itu dipengaruhi kuat oleh naiknya harga bahan bakar minyak non-subsidi untuk jenis Pertamax dan Pertamax Green 95.

Baca Juga:KMRT Tuding Pemkab Tasikmalaya Abaikan Putusan KI Jabar, Ancam Gugat ke PTUNHUT Bhayangkara ke-80, Polres Tasikmalaya Pacu Akselerasi Pelayanan Lewat Optimalisasi Call Center 110

“Andil inflasinya cukup besar pada kelompok komoditas bensin, yakni mencapai 0,21 persen,” cetusnya.

Ari melanjutkan, faktor lain yang turut memberikan dampak adalah cuaca. Khususnya tantangan musiman dari sektor pangan seiring datangnya musim kemarau yang mulai terjadi di Jawa Barat.

Ekor musim kemarau ini berdampak pada beberapa tanaman pangan. BPS mencatat adanya dorongan kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan dan hortikultura akibat menipisnya pasokan di pasar.

“Terlihat komoditas seperti bawang merah mengalami kenaikan dengan andil 0,03 persen, bawang putih memberikan andil 0,02 persen, serta beras dan tomat yang masing-masing menyumbang andil 0,01 persen menjadi pemicu inflasi,” katanya.

Di samping itu faktor pergerakan komoditas global dan nilai tukar mata uang asing juga berdampak terhadap inflasi sepanjang Juni 2026. Misalnya gejolak harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global berimbas secara domestik.

“Ini membuat harga minyak goreng dalam kemasan mengalami kenaikan di Jawa Barat. Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih belum stabil menyebabkan harga komoditas pangan berbasis impor seperti bawang putih turut terkerek naik, sambung Ari. (son)

0 Komentar