Bahkan dalam kasus-kasus yang sangat manusiawi, seperti seorang ibu yang meminjam untuk biaya rumah sakit anaknya, perlakuan tetap sama: ditagih dengan cara keras, diteror secara verbal, dan dalam beberapa kasus, bahkan mengalami kekerasan fisik.
Situasi ini menunjukkan betapa brutalnya sistem ketika masyarakat miskin dihadapkan pada pilihan-pilihan yang semuanya salah. Mereka sadar bahwa meminjam uang dari pinjaman online (pinjol) bisa menjadi bumerang. Namun jika tidak meminjam, risikonya bisa lebih besar, tidak bisa makan, kehilangan tempat tinggal, atau anak tidak bisa melanjutkan sekolah.
Dan ketika pada akhirnya mereka gagal bayar, berbagai tudingan pun datang. Mereka dicap sebagai pemalas, tidak bertanggung jawab, bahkan dianggap sengaja kabur dari kewajiban. Padahal, tidak ada satu pun orang yang ingin hidup dalam ketakutan dikejar utang, jika mereka memiliki pilihan lain.
Baca Juga:Review Infinix Zero 50 5G, Smartphone Terbaik Infinix 2025, Performa Flagship Harga MenengahAdmediaJob hingga AMV, Pola Penipuan Aplikasi Penghasil Uang yang Berulang
6. Siklus Berulang
Desakan ekonomi bukan hanya mendorong masyarakat miskin masuk ke dalam jerat pinjol, tetapi juga membuat mereka terjebak menjadi korban berulang. Ketika satu pinjaman macet, banyak dari mereka mencoba menutupi utang tersebut dengan meminjam dari aplikasi lain, gali lubang tutup lubang. Siklus ini terus berputar tanpa ujung yang jelas.
Ini bukan karena mereka tidak mau berubah, tetapi karena sejak awal mereka memang tidak memiliki ruang untuk memilih. Ketika pinjaman pertama tidak bisa dilunasi tepat waktu, tekanan datang dari segala arah. Ada yang diteror setiap hari, ditelepon berulang kali, bahkan diancam data pribadinya akan disebarkan.
Dalam kondisi seperti itu, banyak yang merasa tidak memiliki pilihan lain selain mengajukan pinjaman baru untuk menutup utang lama. Mereka membuka aplikasi pinjol lain, mengajukan pinjaman, lalu menggunakan dananya untuk membayar pinjaman sebelumnya. Namun kebutuhan hidup tetap berjalan. Besok atau minggu depan, mereka akan butuh uang lagi, dan proses ini pun kembali terulang.
Polanya terus berulang, satu pinjol lunas, dua pinjol baru dibuka. Utang lama tertutupi, tetapi utang baru lebih besar. Inilah siklus setan yang membuat banyak orang miskin semakin tenggelam dalam krisis.
