Yang awalnya hanya membutuhkan Rp500.000, lama-kelamaan jumlah utangnya membengkak menjadi Rp5 juta, Rp10 juta, bahkan lebih. Padahal, penghasilan bulanan mereka mungkin tidak mencapai Rp2 juta.
Dalam situasi seperti ini, gagal bayar bukan lagi pilihan, melainkan satu-satunya kemungkinan yang tersisa. Ironisnya, sistem pinjol sendiri menyadari bahwa pola gali lubang tutup lubang sering terjadi, dan mereka tidak mencegahnya. Bahkan, beberapa aplikasi pinjol ilegal justru saling terhubung. Ketika satu pinjaman disetujui, peminjam langsung disuguhi iklan atau penawaran dari aplikasi lain, mendorong mereka untuk kembali meminjam. Sistem ini seperti jaring laba-laba yang saling menarik ke arah kehancuran.
Banyak korban bahkan sudah tidak tahu lagi berapa total utang yang mereka miliki. Hidup mereka hanya berputar pada tanggal-tanggal jatuh tempo. Tidak ada ruang untuk menabung, tidak ada kesempatan untuk keluar dari jeratan. Energi, waktu, dan uang mereka habis hanya untuk mengejar tenggat pembayaran.
Baca Juga:Review Infinix Zero 50 5G, Smartphone Terbaik Infinix 2025, Performa Flagship Harga MenengahAdmediaJob hingga AMV, Pola Penipuan Aplikasi Penghasil Uang yang Berulang
Karena sistem ini berbasis digital, tekanan datang tanpa henti. Notifikasi terus bermunculan, pesan masuk sepanjang hari, kondisi mental semakin terpuruk, ekonomi makin kacau, dan rasa percaya diri kian menghilang.
7. Dari Jeratan Digital ke Jeratan Sosial
Yang lebih tragis, dalam banyak kasus, orang yang terjebak pinjol akhirnya juga meminjam uang secara offline, entah dari rentenir atau kenalan pribadi. Hal ini terjadi karena aplikasi pinjol sudah mulai menolak permohonan baru dari mereka. Maka jeratannya bukan hanya digital, tetapi juga sosial.
Mereka mulai berbohong kepada keluarga, menyembunyikan kondisi keuangan, dan akhirnya merasa semakin terisolasi secara emosional. Siklus ini tidak akan putus dengan sendirinya, karena sistemnya memang dirancang agar korban tetap terjebak di dalamnya.
Dan ketika akhirnya mereka berhenti karena sudah benar-benar tidak sanggup membayar, yang tersisa hanyalah kehancuran: nama baik rusak, reputasi hancur, dan kondisi mental yang sudah sangat jatuh.
Di tengah meningkatnya kasus gagal bayar pinjaman online (pinjol), mulai muncul pola pikir baru yang perlahan menjadi pembenaran kolektif: “semua orang juga gagal bayar”. Ungkapan ini awalnya lahir dari rasa frustrasi, namun lama-kelamaan berkembang menjadi pelarian, justifikasi, bahkan identitas bersama.
