Sejarah Panjang Nasi Singkong Cireundeu, dari Penjajahan hingga Ketahanan Pangan

Sejarah Panjang Nasi Singkong Cireundeu, dari Penjajahan hingga Ketahanan Pangan
Masyarakat Kampung Adat Cireundeu Saat Sedang Mengolah Nasi Rasi atau Singkong (mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah gempuran makanan modern, warga Kampung Adat Cireundeu di Kecamatan Cimahi Selatan tetap teguh mempertahankan rasi makanan pokok berbahan dasar singkong yang telah dikonsumsi secara turun-temurun selama lebih dari 15 abad.

Namun siapa sangka, nama ‘rasi’ ternyata bukan sebutan asli makanan khas tersebut. Bagi warga lokal, rasi adalah nama baru yang muncul setelah kampung adat ini dijadikan lokasi percontohan program ketahanan pangan nasional.

“Nama aslinya sangun. Kalau sudah dimasak namanya jadi sangun sampe. Sangun itu bahan dasar nasi singkong,” ujar Jajat, tokoh masyarakat Kampung Adat Cireundeu saat ditemui, Selasa (22/7/25).

Baca Juga:Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sampaikan Aspirasi Warga Tenjo ke Gubernur Jabar, 14 Kelas Baru Siap Dibangun Promo Pemasangan SR Baru Air Bersih Rp550 Ribu, PDAM Tirta Anom Luncurkan Program Merdeka

Rasi atau sangun, lebih dari sekadar sumber pangan. Bagi masyarakat Cireundeu, makanan ini merupakan bentuk konkret pelestarian nilai leluhur dan keberlanjutan lingkungan.

“Kami diamanatkan untuk menjaga alam. Karena kalau tidak dijaga, tempat tinggal ini akan dipenuhi tangtungan,” kata Jajat.

Tangtungan dalam bahasa Sunda bisa berarti keramaian ataupun perubahan fungsi lahan menjadi bangunan seperti perumahan, pabrik, atau pusat perbelanjaan. Bagi warga Cireundeu, menjaga lingkungan adalah warisan yang tak boleh diabaikan.

Jajat menambahkan, kebiasaan makan singkong berakar dari masa penjajahan Belanda, ketika beras menjadi komoditas rampasan. Tokoh adat Mama Ali kemudian mengajak warga untuk tak lagi bergantung pada nasi beras sebagai bentuk perlawanan.

“Pada tahun 1918, masyarakat Cireundeu sepakat untuk melakukan ‘Nunda Kersaning Nyai’ atau tidak lagi makan nasi beras,” ungkapnya.

Langkah itu dilanjutkan pada 1924, saat Omah Asnama, menantu Mama Ali, menemukan metode mengolah singkong menjadi rasi. Ia memainkan peran kunci dalam transisi pangan masyarakat Cireundeu dari beras ke singkong.

Ibu Omah sendiri bahkan sempat ditahan oleh Belanda karena dianggap berbahaya.

Baca Juga:Perkuat Ketahanan Siber Daerah, Kabupaten Bandung Barat Resmi Miliki CSIRTMenilik Progres Mesin Pengolahan Sampah Insinerator di Pasar Ciwastra

“Lantaran aktivitasnya mengajak warga mengganti beras dengan singkong selalu diselipkan dengan semangat kemerdekaan,” tutur Jajat.

Kini, rasi tak hanya bertahan sebagai makanan pokok. Sejak 2010, berkat kerja sama dengan mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran (Unpad), masyarakat Cireundeu telah mengembangkan lebih dari 10 produk turunan berbasis rasi.

“Kita buat kue semprong, kue kering, dan sekarang sudah ada mie dari tepung rasi,” ungkapnya.

0 Komentar