JABAR EKSPRES – Harapan ratusan siswa dan guru SDN I Babakan Talang, Dusun Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB), untuk kembali belajar di gedung sekolah yang layak, belum juga terwujud.
Sudah lebih dari satu tahun berlalu sejak gedung sekolah mereka ambruk akibat bencana pergerakan tanah pada 28 Februari 2024 lalu, namun janji relokasi dan pembangunan sekolah baru tak kunjung direalisasikan.
Saat ini, proses belajar mengajar berlangsung di bangunan darurat berukuran sekitar 105 meter persegi yang berdiri di Kampung Pasirmalang, hanya sekitar 200 meter dari reruntuhan gedung lama.
Baca Juga:Gunakan Besi untuk Ambil Layang-Layang, Dua Bocah Tersengat Listrik di Bandung BaratPercepat Penanganan Stunting, Pemprov Jateng Perkuat Sinergi dengan BKKBN
Bangunan ini dibangun atas bantuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dengan memanfaatkan lahan milik warga setempat.
“Kami sangat bersyukur tahun ini jauh lebih baik berkat adanya ruang darurat. Jadi tetap bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di rumah sendiri, walaupun sarana dan prasarananya tidak memadai,” ujar Kepala SDN I Babakan Talang, Iis Dida Nurjanah, saat ditemui belum lama ini.
Meski begitu, kondisi bangunan darurat jauh dari kata ideal. Dindingnya terbuat dari triplek tipis, atapnya dari asbes, dan lantainya hanya diplester tanpa keramik.
Bangunan tersebut dibagi menjadi tiga ruangan yang kemudian disekat menjadi enam kelas. Sekat yang digunakan pun hanya lembaran triplek sederhana, yang membuat aktivitas belajar sering terganggu oleh suara dari kelas sebelah.
“Semua ruangan kami sekat supaya bisa menampung enam kelas. Sekatnya dari triplek, jadi tidak bisa benar-benar meredam suara. Kadang satu guru sedang menjelaskan, guru lain harus mengalah dengan menulis di papan tulis saja,” jelas Iis.
Fasilitas lain pun sangat terbatas. Tidak semua siswa mendapatkan bangku dan kursi. Di beberapa ruang, siswa harus duduk lesehan di lantai beralas tikar dengan meja kecil seadanya.
“Meja dan kursi tidak cukup. Ada kelas yang duduk pakai kursi, kelas lain hanya lesehan. Tapi kami tetap semangat mengajar, karena ini satu-satunya ruang belajar yang kami miliki sekarang,” imbuhnya.
Baca Juga:Soal Jam Masuk Sekolah Tidak Seragam Sesuai Intruksi Gubernur Dedi Mulyadi, Ini Penjelasan Pemkot BandungDembele Menggila, Jadi Pesaing Kuat Yamal dalam Perburuan Ballon d’Or 2025
Ia menambahkan, kondisi darurat ini juga menyulitkan guru. Tidak ada ruang guru yang memadai, sehingga mereka harus berinisiatif membangun ruang kerja sederhana di ujung bangunan, menyekatnya dengan papan triplek.
