Budi Arie Diduga Gunakan Setoran Judi Online untuk Biayai Kampanye Politik

Budi Arie Diduga Gunakan Setoran Judi Online untuk Biayai Kampanye Politik
Budi Arie Diduga Gunakan Setoran Judi Online untuk Biayai Kampanye Politik
0 Komentar

Pada tahun lalu, nilai transaksi judi online mencapai Rp51,3 triliun, naik signifikan dari Rp31,5 triliun pada 2023. Bahkan, akumulasi total uang yang berputar dalam ekosistem judi online tahun lalu diperkirakan mencapai Rp981 triliun, melonjak drastis dari Rp327 triliun pada 2023. Sementara pada tahun ini, perputaran dana judi online diproyeksikan akan menembus Rp1.200 triliun.

Angka yang sangat besar ini membuat setoran kepada para “backing” di Kementerian Komunikasi terlihat seperti recehan. Karena itu, tudingan bahwa pejabat kementerian tidak hanya menerima setoran melalui perantara atau anak buah, tetapi juga menerima langsung uang, barang, properti, atau bentuk gratifikasi lain dari bandar judi, sangat masuk akal.

Tidak logis jika dana sebesar itu hanya mengalir ke satu atau dua individu seperti Menteri Komunikasi dan kaki tangannya. Bisnis sebesar ini tidak akan bisa tumbuh subur tanpa adanya perlindungan dari aktor politik dan penegak hukum yang korup.

Baca Juga:PHK Bukan Satu-satunya, Ini 8 Alasan Karyawan Kehilangan Pekerjaan17 Koin Kuno Paling Langka dan Mahal yang Diburu Kolektor Uang di Dunia

Kurangnya keseriusan aparat penegak hukum dalam memberantas judi online dapat dilihat dari pola penindakan yang selama ini dilakukan. Polisi cenderung hanya menyasar bandar kecil (level cere) atau bahkan para pemain, sementara nama-nama besar yang disebut-sebut oleh masyarakat dan media massa tidak pernah tersentuh hukum.

Melansir dari hasil Investigasi Tempo di Kamboja beberapa waktu lalu bahkan menemukan fakta bahwa sejumlah pengusaha asal Indonesia menjadi pengelola bisnis judi online yang menargetkan pemain dari dalam negeri. Aktivitas mereka melintasi batas negara, mengindikasikan bahwa ini adalah kejahatan terorganisasi lintas negara yang memerlukan penanganan serius dan terkoordinasi.

Hubungan antara aparat dan bandar judi online semakin menunjukkan gejala simbiosis mutualisme. Keduanya saling menguntungkan: aparat memperoleh keuntungan melalui perlindungan, sementara bandar dapat menjalankan operasinya dengan aman.

Ketika kasus pembunuhan ajudan Irjen Ferdy Sambo mencuat ke publik, isu setoran uang dari judi online juga ikut menjadi sorotan, memperlihatkan bagaimana masalah ini telah mengakar hingga ke jantung institusi negara.

Nama Ferdy Sambo diyakini sebagai salah satu pengumpul dana dari para bandar judi online. Besarnya perputaran uang dalam bisnis gelap ini membuat banyak aparat penegak hukum tidak memiliki keberanian untuk memberantas praktik kejahatan tersebut.

0 Komentar