JABAR EKSPRES – Ancaman Sesar Lembang tak lagi bisa dianggap enteng. Patahan aktif sepanjang 29 kilometer yang melintang dari Padalarang hingga Cileunyi itu menyimpan potensi gempa besar yang bisa melanda wilayah Bandung Raya.
Di tengah potensi ancaman tersebut, Pemerintah Kota Bandung mengandalkan pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) sebagai salah satu strategi mitigasi.
Plt Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung, Didi Ruswandi, sebelumnya menyebutkan bahwa tahun bakal bertambah 3 KSB di kota kembang yakni Dago, Hegarmanah, dan Cieumbuleuit.
Baca Juga:Lagi, Relokasi Pedagang Pasar Cihaurgeulis Tersendat, Farhan Beberkan Sejumlah AlasanKenaikan Harga LPG 3 Kg Picu Keluhan Pangkalan, 4 Lokasi di Cimahi Ketahuan Jual di Atas HET
“Nanti terus akan kita lakukan di kawasan-kawasan padat dan berada di lereng, sambil juga menunggu kawasan resiko bencana yang sedang dikaji oleh BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Itu jadi prioritas,” papar Didi.
Namun, pertanyaannya: apakah langkah ini cukup?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berkali-kali mengingatkan potensi gempa bumi dari Sesar Lembang. Dengan estimasi kekuatan maksimal mencapai magnitudo 6,8 dengan dampak bisa merusak.
Tak hanya bangunan, tetapi juga infrastruktur vital dan korban jiwa bisa menjadi harga yang mahal jika mitigasi tidak disiapkan sejak dini.
Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gempa dari Sesar Lembang bisa menimbulkan dampak serius bagi Kota Bandung yang memiliki kepadatan penduduk tinggi dan kondisi tanah lempung yang memperkuat getaran gempa.
Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Sosial telah membentuk sejumlah KSB di berbagai kelurahan rawan bencana.
KSB adalah model pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat, dengan pelatihan relawan lokal, simulasi evakuasi, serta sistem peringatan dini sederhana.
Sayangnya, menurut Peneliti Geografi dan Mitigasi Bencana UPI, Ayu Lestari menilai, keberadaan KSB masih memiliki keterbatasan dalam menghadapi skenario gempa besar.
Baca Juga:Bus Buatan Semarang Melaju ke Sri Lanka, Gubernur Jateng Resmikan Ekspor PerdanaSidolig Jadi Markas PSBS Biak, Persib Tak Masalah: “Itu Milik Pemkot Bandung”
“Kesiapan untuk bencana geologis seperti gempa bumi membutuhkan pendekatan teknis yang berbeda. KSB lebih kuat dalam penanganan pasca-bencana atau pada bencana yang dapat diprediksi seperti banjir. Tapi untuk gempa yang terjadi tiba-tiba, dibutuhkan infrastruktur tahan gempa dan sistem peringatan dini yang lebih canggih,” ujar Ayu, Rabu (2/7).
Ia juga menyoroti kurangnya edukasi kebencanaan khusus gempa di tingkat sekolah dan masyarakat umum, serta minimnya integrasi antara KSB dan lembaga teknis seperti BMKG dan BPBD.
