Salah satu contoh yakni daerah Cidadap, wilayah yang termasuk kawasan dekat zona aktif Sesar Lembang, beberapa warganya mengaku belum pernah mengikuti simulasi evakuasi gempa.
“Kalau soal banjir, kami pernah diajari evakuasi dan pertolongan pertama. Tapi kalau gempa, belum pernah. Padahal katanya Sesar Lembang dekat dari sini,” kata Lilis, seorang warga.
Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan mitigasi di atas kertas dan implementasi di lapangan.
Baca Juga:Lagi, Relokasi Pedagang Pasar Cihaurgeulis Tersendat, Farhan Beberkan Sejumlah AlasanKenaikan Harga LPG 3 Kg Picu Keluhan Pangkalan, 4 Lokasi di Cimahi Ketahuan Jual di Atas HET
Pengamat kebijakan publik, Achmad Muhtar, menilai bahwa KSB sebaiknya hanya menjadi salah satu bagian dari strategi besar mitigasi risiko gempa.
“Yang dibutuhkan adalah masterplan kebencanaan berbasis sains, yang mengintegrasikan pemetaan risiko, audit struktur bangunan, edukasi masyarakat, dan respon cepat berbasis teknologi. KSB sangat bagus sebagai penguatan komunitas, tapi tidak cukup sebagai satu-satunya benteng,” ujarnya.
Kampung Siaga Bencana memang menjadi langkah positif untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan warga.
Namun, menghadapi potensi gempa besar dari Sesar Lembang, Bandung membutuhkan pendekatan mitigasi yang lebih komprehensif mulai dari perencanaan tata ruang, audit bangunan, edukasi publik, hingga sistem peringatan dini berbasis teknologi.
Tanpa upaya menyeluruh, kekhawatiran terhadap potensi bencana dari Sesar Lembang hanya akan menjadi bom waktu yang menunggu untuk meledak. (Dam)
