JABAR EKSPRES – Gedebage, sebuah kawasan di timur Kota Bandung yang dahulu dirancang sebagai pusat pertumbuhan baru, kini menghadapi kenyataan pahit.
Alih-alih menjadi simbol modernisasi kota, Gedebage kini dihadapkan pada persoalan klasik perkotaan: banjir musiman, kemacetan yang kian parah, pertumbuhan penduduk yang tak terkendali, hingga invasi kendaraan berat yang melumpuhkan akses jalan.
Setiap musim hujan tiba, warga Gedebage menahan napas. Kawasan ini berubah menjadi kolam raksasa, dengan genangan yang bisa bertahan berhari-hari.
Baca Juga:Ibis Bandung Pasteur Hadirkan “Holiday Wonders”, Liburan Sekolah Jadi Makin Seru!Pura-pura Salat, Aksi Residivis Pencuri Kotak Amal di Banjar Berhasil Digagalkan Warga!
Bahkan wilayah Gedebage menjadi salah satu titik rawan banjir dengan ketinggian air yang bisa mencapai lebih dari 50 cm.
Penyebabnya bukan hanya hujan deras, tetapi juga posisi geografis Gedebage yang berada di dataran rendah serta buruknya sistem drainase.
Sejumlah saluran air tersumbat oleh sedimentasi dan sampah, ditambah pembangunan masif yang mengorbankan lahan resapan air.
“Kalau hujan dua jam saja, air bisa masuk ke rumah. Kita sudah seperti tinggal di danau buatan,” keluh Dedi (42), warga RW 06 Kelurahan Rancabolang, Senin (30/6).
Selain itu, kemacetan di Gedebage bukan lagi fenomena jam sibuk. Hampir sepanjang hari, arus kendaraan tersendat, terutama di ruas Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Gedebage Selatan, dan Jalan Derwati.
Situasi diperparah oleh banyaknya kendaraan berat seperti truk trailer, kontainer, hingga bus yang kerap melintasi jalur ini sebagai akses ke kawasan industri maupun lokasi wisata di wilayah tersebut.
Menurut pengamat transportasi UPI, Wiku Tama menyebut, kemacetan di Gedebage juga dipicu oleh kurangnya perencanaan transportasi yang menyeluruh.
Baca Juga:Kontroversi Ucapan Gubernur Jabar Soal Usia Kota Cirebon, Pemerhati Minta Adu Data2,8 Juta Kendaraan Akses Pemutihan Pajak, Kini Diperpanjang Sampai September!
“Infrastruktur jalan tidak dirancang untuk beban kendaraan sebesar itu. Tidak ada pembatasan waktu operasional kendaraan besar, padahal ini kawasan padat permukiman,” kata Wiku.
Ironisnya, kawasan ini juga menjadi titik tumbuh pembangunan proyek strategis seperti Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dan area proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Namun, akses jalan tidak ikut diperluas.
Belum lagi, dengan hadirnya perumahan-perumahan besar di sekitar Gedebage, pertumbuhan penduduk mengalami lonjakan signifikan. Data BPS mencatat bahwa Kelurahan Rancabolang dan Cisaranten Kidul termasuk yang mengalami peningkatan jumlah penduduk terbanyak dalam 5 tahun terakhir.
