Bahkan beberapa bulan sebelumnya, sebuah video sempat viral di media sosial. Seorang ibu hamil melahirkan di atas tandu bambu saat dievakuasi ke fasilitas kesehatan. Peristiwa itu terjadi di Jalan Kibangkong. Jalan itupun disebut sebagai jalur utama yang “terjal dan sangat sulit dilalui.”
“Bukan cuma yang sakit, yang mau sekolah atau ke pasar juga harus hadapi jalan ini. Warga sudah puluhan tahun berharap. Mereka ini justru warga terdampak proyek PLTA,” kata Ai.
Keselamatan di Ujung Bambu
Tandu bambu dan sarung menjadi simbol pahit ketertinggalan. Di saat daerah lain sibuk berbicara pelayanan serba digital dan pembangunan infrastruktur, warga Bojongsalam masih berjuang membawa ibu hamil ke bidan dengan cara-cara zaman dahulu.
Baca Juga:Hotel Mewah Bersuara, Pemkot Bandung Perlu Strategi Dongkrak WisatawanProyek Pembangunan SDN Gang Aut Kota Bogor Renggut Korban Jiwa, Ini Kronologinya
Sarana umum di sana hanya beberapa bangunan ibadah dan sekolah dasar. Itu pun sebagian besar sudah uzur dan membahayakan. Anak-anak belajar di ruang kelas yang nyaris rubuh, sementara jalan di depan sekolah mereka berubah jadi kubangan lumpur saat hujan datang.
“Kami tidak menuntut banyak. Hanya ingin jalan dibangun, supaya ambulan bisa masuk, motor bisa lewat dengan aman. Ini soal nyawa,” pinta Ai dengan mata yang berkaca-kaca.
Harapan yang Tak Pernah Mati
Meski terpinggirkan, warga Bojongsalam tak kehilangan harapan. Mereka terus bersuara, mengirim proposal, memanggil media, dan tetap percaya bahwa suatu hari jalan itu akan dibangun.
Sebab bagi mereka, akses jalan bukan hanya tentang transportasi. Tapi tentang hidup atau mati, tentang lahir dengan selamat atau tidak, tentang anak-anak yang bisa sekolah atau terpaksa tinggal di rumah.
“Dan selama masih ada yang lahir di atas tandu bambu, pembangunan itu belum bisa dikatakan adil,” tandas Ai. (Wit)
