JABAR EKSPRES – Pagi itu, awan menggantung rendah di langit Desa Bojongsalam, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Begitu pun embun belum sepenuhnya mengering dari dedaunan.
Dalam kesunyian, suara panik memecah keheningan Kampung Langkop, Desa Bojongsalam. Entin (29) sedang menahan sakit hebat di perutnya. Bayinya hendak lahir, namun tak ada mobil, tak ada puskesmas, dan tak ada jalan layak yang bisa membawanya dengan cepat ke pusat kesehatan.
Jalan tanah merah yang menjadi satu-satunya akses keluar kampung begitu curam dan licin. Musim hujan membuatnya semakin berbahaya. Tak ada pilihan lain, tetangga bergotong royong menandu Entin dengan peralatan seadanya.
Baca Juga:Hotel Mewah Bersuara, Pemkot Bandung Perlu Strategi Dongkrak WisatawanProyek Pembangunan SDN Gang Aut Kota Bogor Renggut Korban Jiwa, Ini Kronologinya
Dua bilah bambu dan sehelai kain sarung dijadikan penopang tubuh Entin. Sementara suaminya tengah bekerja jauh di Maluku.
“Pakai motor terlalu bahaya, bisa jatuh. Jadi saya ditandu. Alhamdulillah warga bantu. Tapi kalau tidak cepat, entah bagaimana nasib saya dan bayi,” tutur Entin pelan, mengenang hari yang nyaris merenggut nyawanya.
Bukan Kisah Satu Orang
Cerita Entin bukan satu-satunya. Ai (39), seorang guru Madrasah Ibtidaiyah di Kampung Cangkuang, mengalami hal serupa bahkan lebih dramatis. Pada 2010, ia melahirkan di tengah jalan sebelum sempat mencapai bidan. Ketuban pecah ketika perjalanan masih jauh.
“Saya ingat betul, saya melahirkan di atas tandu, ditolong warga. Waktu itu pakai kursi kayu dan sarung. Dan sekarang, 14 tahun berlalu, jalan masih tetap seperti dulu,” ucap Ai, suaranya serak menahan kecewa.
Ai tak hanya berbicara sebagai ibu, tapi juga sebagai pendidik. Ia melihat bagaimana anak-anak di kampungnya berjuang menempuh pendidikan. Hujan membuat sepatu mereka basah, tubuh mereka terpeleset, dan semangat mereka diuji setiap hari hanya untuk mencapai sekolah.
Infrastruktur Tertinggal di Tengah Proyek Strategis
Desa Bojongsalam, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, sebenarnya bukan desa biasa. Ia berada di area terdampak Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Cisokan, sebuah proyek strategis nasional. Tapi, kemegahan proyek itu seperti hanya berdiri di atas penderitaan warga.
Jalan sepanjang lima kilometer yang menghubungkan Kampung Langkop, Cangkuang, hingga Ciawitali semuanya masih berupa tanah merah. Tak ada pengerasan, tak ada drainase, hanya harapan yang terus dilindas lumpur dan waktu.
