Program KBS sendiri menjadi salah satu ujung tombak Pemkot Bandung dalam menciptakan lingkungan mandiri pengelola sampah.
Tahun ini, Erwin menargetkan tercapainya 700 titik KBS di seluruh Kota Bandung. Meski diakui waktu tersisa cukup singkat, ia optimis target ini dapat dicapai lewat kolaborasi yang diperkuat.
Mengenai target 700 titik KBS pada tahun ini, Erwin mengaku terus menggenjot realisasi melalui pendekatan berbasis RW.
Baca Juga:Dampak 100 Hari Kerja Wali Kota Bandung, Walhi Jabar Sebut Belum Terlihat dalam Penanganan SampahKorban Meninggal Dunia Akibat Longsor Gunung Kuda Cirebon Bertambah Jadi 10 Orang, Ini Identitasnya!
Ia menyebut program Prakarsa dapat menjadi cikal bakal RW mandiri dalam pengelolaan sampah, bahkan menghasilkan nilai ekonomi melalui teknologi RDF (Refuse-Derived Fuel).
“Saya udah ada contoh di RW 7 Sukajadi, mereka bisa jual RDF ini menjadi penghasilan. Kalau 30 persen dari masyarakat bisa mengelola itu, saya yakin semua bisa,” katanya optimis.
Dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat dan teknologi tepat guna, Erwin menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya soal kebersihan, tapi juga potensi ekonomi baru bagi warga Kota Bandung.
Menurutnya, potensi ekonomi dari sampah sangat besar, dan bisa menjadi solusi jangka panjang bagi kota yang selama ini bergantung pada pengangkutan ke TPA.
Meski baru 100 hari menjabat, Erwin menegaskan bahwa langkah-langkah ini merupakan awal dari komitmen berkelanjutan untuk menyelesaikan persoalan sampah di Bandung.
Ia menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor pemerintah, masyarakat, dan swasta untuk menjaga kebersihan kota.
“Kami tidak bisa kerja sendiri. Tapi kalau warga ikut bergerak, RW menjadi kuat, dan teknologi kita perkuat, insya Allah Bandung bisa bebas sampah,” pungkasnya. (Dam)
