Lalu, mengapa masih banyak orang yang tetap membeli mobil LCGC?
Jawabannya cukup kompleks. Salah satu alasan utama adalah karena mayoritas pembeli LCGC merupakan pembeli mobil pertama (first buyer). Dalam pemikiran mereka, mobil yang murah akan memiliki biaya perawatan yang rendah, konsumsi bahan bakar yang irit, dan lebih mudah dijual kembali. Dengan asumsi-asumsi tersebut, LCGC mendapat citra sebagai mobil pemula yang aman, minim risiko, dan relatif terjamin. Hal ini menjadikan LCGC sebagai pilihan yang dianggap “zona nyaman” bagi pembeli pertama, terutama dari kalangan kelas menengah.
Stereotip Mobil Murah Perawatan Murah
Jawabannya memang ya, tetapi selisih biayanya sebenarnya tidak terlalu jauh, terutama untuk suku cadang yang bersifat moving parts. Perbedaan harga antara suku cadang mobil LCGC dan mobil non-LCGC umumnya hanya sekitar 30% untuk komponen orisinal. Jika menggunakan suku cadang aftermarket, selisihnya bahkan bisa lebih kecil, hanya sekitar 10–20%. Jadi, secara literal memang lebih murah, tetapi tidak terlalu signifikan dibandingkan mobil non-LCGC.
Faktanya, belum tentu demikian. Berdasarkan data konsumsi BBM mobil manual modern saat ini, rata-rata konsumsi dalam kota berada di kisaran 1:15 dan luar kota sekitar 1:19. Ini berlaku untuk mobil dengan kapasitas mesin di bawah atau sama dengan 1500 cc. Dengan angka tersebut, konsumsi BBM antar mobil dalam kategori ini cenderung mirip, jika dihitung menggunakan metode full-to-full.
Baca Juga:Review iQOO Z10 Indonesia: Baterai Jumbo 7300 mAh, Tapi Performa Biasa Saja?Membongkar Skema Ponzi di Balik Aplikasi Rinck dan AMV
Perlu diingat, mobil LCGC umumnya memiliki kapasitas mesin lebih kecil, yang berarti torsi dan tenaga (power) yang dihasilkan pun lebih rendah. Dalam kondisi jalan menanjak seperti di daerah pegunungan, jangan berharap konsumsi bahan bakarnya akan tetap irit. Justru, karena mesinnya harus bekerja lebih keras, mobil LCGC cenderung lebih boros dibandingkan mobil non-LCGC yang memiliki mesin lebih besar. Artinya, iritnya mobil LCGC bersifat situasional, dan tidak bisa dijadikan patokan mutlak.
Mobil LCGC tergolong lebih sulit dijual. Sebagai perbandingan, mobil-mobil seperti Suzuki Ertiga, Nissan Livina, atau Toyota Avanza biasanya laku dalam waktu maksimal satu bulan. Namun, ketika saya mencoba menjual mobil LCGC seperti Toyota Calya atau Daihatsu Sigra, penjualannya bisa memakan waktu hingga tiga bulan dan tidak kunjung laku.
