JABAR EKSPRES – Rencana alih fungsi SDN Baros Mandiri 7 Kota Cimahi menjadi gedung baru SMP Negeri 6 menuai penolakan dari para wali murid.
Mereka khawatir kebijakan itu akan menghilangkan akses pendidikan dasar bagi warga sekitar sekaligus menghapus sejarah sekolah yang telah berdiri puluhan tahun.
Wacana tersebut muncul setelah Dinas Pendidikan Kota Cimahi mempertimbangkan penggunaan gedung SDN Baros Mandiri 7 untuk mendukung operasional SMP Negeri 6 yang saat ini masih menerapkan sistem belajar dua sesi di Jalan Gatot Subroto.
Baca Juga:Di Hari Bumi, Taj Yasin Minta Percepatan Transisi Energi Baru Terbarukan Pertamina Goes to Campus 2026 Jadi Wadah Mahasiswa Cetak Inovator dan Pemimpin Energi Masa Depan
Koordinator kelas SDN Baros Mandiri 7, Sinta, mengatakan rencana itu dilatarbelakangi jumlah siswa yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
“Rencananya, gedung SD BM 7 akan dialihkan fungsinya menjadi lokasi baru SMP Negeri 6. Padahal, SMP Negeri 6 saat ini sudah beroperasi di Jalan Gatot Subroto, namun harus berjalan dengan sistem pembelajaran dua sesi, yakni pagi dan siang,” kata Sinta saat dikonfirmasi, Jum’at, (15/5/25).
Menurut dia, munculnya rencana tersebut juga berkaitan dengan aturan baru yang tidak lagi memperbolehkan sekolah menjalankan sistem pembelajaran dua sesi.
“Alasannya, aturan baru melarang pelaksanaan dua sesi, sehingga dibutuhkan gedung tambahan agar seluruh kegiatan belajar mengajar bisa berlangsung pada waktu pagi saja,” ujarnya.
Merespons hal itu, para wali murid mendatangi Dinas Pendidikan Kota Cimahi untuk menyampaikan penolakan secara langsung. Pertemuan berlangsung pada Rabu lalu.
“Para wali murid pun telah melakukan pertemuan dengan pihak dinas pada Rabu kemarin untuk menyampaikan sikap tegas menolak rencana tersebut,” kata Sinta.
Bagi sebagian warga, keberadaan SDN Baros Mandiri 7 bukan sekadar fasilitas pendidikan.
Baca Juga:Prodi KPI UNIK Cipasung Bekali Mahasiswa Skill Jurnalistik Profesional175 Calon Haji Kabupaten Tasikmalaya Kloter 29 Siap Diberangkatkan ke Tanah Suci
Sekolah itu dinilai memiliki nilai historis karena telah menjadi bagian dari pendidikan masyarakat sekitar selama puluhan tahun.
Sinta menilai penurunan jumlah siswa tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghapus atau mengalihkan fungsi sekolah.
Menurut dia, kondisi tersebut masih bisa diperbaiki melalui berbagai langkah.
“Alih-alih menutup atau mengubah fungsi gedung, mereka berpendapat penurunan jumlah siswa menjadi masalah yang masih bisa diperbaiki,” ujarnya.
Ia mengatakan pihak sekolah bersama guru dan warga telah berupaya meningkatkan minat pendaftaran siswa baru dengan mendatangi sejumlah taman kanak-kanak di sekitar wilayah sekolah.
