“Nanti kami bisa kembangkan budaya-budaya ini melalui penelitian, ada inovasi-inovasi atau hasil dari pembelajaran masyarakat Kampung Cirendeu,” tuturnya.
Sri mengapresiasi kemajuan Kampung Adat Cirendeu yang dinilainya berhasil mengintegrasikan kearifan lokal dengan program-program kesehatan dari pemerintah.
“Bedanya study tour dengan kami, kalau kami ini adalah field trip. Field trip ini adalah kunjungan lapangan, bagaimana mereka mempraktikkan teori-teori yang sudah ada,” jelasnya.
Baca Juga:Hutan Adat Cirendeu Eks TPA akan Disiapkan Jadi Hutan Bambu Bandung RayaTerhambat Akses Jalan, Pelajar di Bandung Barat Terjang Waduk Saguling Demi Bersekolah
Kegiatan serupa sebelumnya pernah dilakukan di Kampung Adat Cisolok, Kampung Naga di Tasikmalaya, dan komunitas adat Baduy.
Cirendeu menjadi destinasi terbaru mereka dalam menggali nilai-nilai budaya yang memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan perempuan dan anak.
Sri berharap, mahasiswa tidak hanya membawa pulang catatan lapangan, tetapi juga kesadaran baru akan pentingnya pendekatan budaya dalam pelayanan kesehatan.
“Mereka sudah membuktikan pembelajaran di kelas, kemudian melakukan kajian langsung di masyarakat adat. Ini akan memperkaya wawasan dan kepekaan mereka sebagai calon tenaga kesehatan,” tutupnya. (Mong)
