“Kalau dulu kedalaman kolamnya 4 meter sampai 7 meter, makanya wisatawan yang mengunjungi lokasi itu banyak yang tertarik lompat dari atas air terjun. Karena itu pengelola menyewakan pelampung, tapi sekarang sudah tidak ada. Semua fasilitas juga di bawa oleh pengelola,” tutur Rio.
Ia menyebutkan, air terjun Curug Halimun dulunya memiliki warna kehijauan. Curug Halimun dikelilingi tebing-tebing bebatuan dan dihiasi oleh berbagai tanaman hijau. Lokasi curug yang dikelilingi hutan belantara. Sehingga banyak wisatawan yang melakukan kegiatan berenang dan lompat tebing.
Namun saat ini warna aliran sungai di Curug Halimun berwarna cokelat. “Setiap musim hujan memang airnya jadi cokelat, karena suka ada longsor di hulunya,” kata dia.
Baca Juga:Dua Malam Bersama Jenazah, Polres Ciamis Ungkap Rantai Kejahatan Pembunuhan Wanita Dibungkus Sprei di Kamar KosBPK Bongkar ‘Lubang’ Hukum PDAM Tirta Anom, Penyertaan Modal Miliaran Tak Sesuai Aturan!
Rio berharap pemerintah melalui Pokdarwis kembali mengelola kawasan tersebut. Karena menurutnya keberadaan objek wisata Curug Halimun cukup berkontribusi meningkatkan pendapatan warga sekitar termasuk dirinya sebagai pemandu.
“Karena kan warga di sini mayoritas petani, tapi kemarin dengan adanya wisata warga banyak yang membuat warung. Jadi kan ada penghasilan tambahan, saya juga suka di kasih uang setiap ada wisatawan,” katanya. (Wit)
