Ramadan di Masjid Mungsolkanas: Tradisi Takjil dan Sejarah 156 Tahun 

Suasana di Masjid Mungsolkanas, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Kamis (6/3). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Suasana di Masjid Mungsolkanas, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Kamis (6/3). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Senja di Jalan Cihampelas mulai memudar, menyisakan semburat oranye yang membias di tembok rumah-rumah tua. Di Gang Mama Winata, aroma gorengan dan sirup manis menyeruak, bercampur dengan gelak tawa anak-anak yang berlarian di serambi masjid.

Di depan Masjid Mungsolkanas, masjid tertua di Kota Bandung, sekumpulan remaja sibuk menata piring-piring berisi takjil. Aneka gorengan, buah potong, dan minuman manis tersusun rapi di atas meja kayu panjang.

“Buat siapa aja yang lewat,” ujar Esih Sukaesih (70), kepada wartawan, sambil memastikan setiap porsi tertata rapi. Dialah yang pertama kali menggagas tradisi ini dua dekade lalu, saat dirinya masih berusia 40 tahunan.

Baca Juga:Hindari Penumpukan, Pemerintah Siapkan Platform Mudik GratisPenggeledahan di Kasus Minyak Mentah, Kejagung Tegaskan Sudah Sesuai SOP

Tradisi berbagi takjil ini bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol kebersamaan yang terawat turun-temurun. Dia mengatakan, siapa pun yang melintas bisa mengambil takjil. Baik itu warga sekitar, pengemudi ojek online, hingga anak-anak yang bermain di gang kecil ini.

Seiring berjalannya masa, masjid Mungsolkanas bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga saksi perjalanan sejarah Kota Bandung.

Berdiri sejak 1869, masjid ini masih tegak berdiri di tengah pemukiman padat.

Di teras masjid, sebuah batu hitam menjadi penanda usia rumah ibadah ini. Tulisan di atasnya berbunyi: Masjid Mungsolkanas, Berdiri Tahun 1869 ‘Mangga Urang Ngaos Sholawat Ka Kanjeng Nabi SAW’.

Uniknya, nama Mungsolkanas bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan akronim bahasa Sunda yang berarti “Mari Kita Membaca Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW”.

Ketua Ikatan Remaja Masjid (Irma), Ucu Solihin, menjelaskan, tanah masjid merupakan wakaf dari Raden Suradimadja atau yang dikenal sebagai Mama Aden.

“Dari dulu namanya sudah itu, nggak bisa diubah,” katanya.

Kini, Mungsolkanas telah beberapa kali mengalami renovasi. Esih masih ingat betul, pada 1980-an, bangunan masjid masih berupa rumah panggung dengan sebuah kolam kecil di depannya.

Baca Juga:BI Fokus Jaga Stabilitas Makro Ekonomi dan Sistem KeuanganBadai PHK Tak Terbendung di Indonesia, Ini Kata Menaker!

“Dulu nggak kaya gini, ini udah beberapa kali direnovasi. Lantai dua aja kalau nggak salah tahun 2000-an awal,” ujarnya.

0 Komentar