Pembungkaman Terjadi di Kampus Seni, Rachmat Sabur: Kami Tidak Mati!

Mahasiswa memegang poster tuntutan saat aksi protes terkait pelarangan pertunjukan monolog Wawancara dengan Mulyono oleh Teater Payung Hitam di Taman Kampus ISBI, Kota Bandung, (17/2). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Mahasiswa memegang poster tuntutan saat aksi protes terkait pelarangan pertunjukan monolog Wawancara dengan Mulyono oleh Teater Payung Hitam di Taman Kampus ISBI, Kota Bandung, (17/2). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pementasan Wawancara dengan Mulyono (WDM) yang sedianya digelar di Studio Teater Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada 15-16 Februari 2025 batal berlangsung. Pihak kampus menggembok studio yang menjadi tempat pertunjukan.

Pendiri Teater Payung Hitam, Rachmat Sabur, menilai tindakan ISBI Bandung sebagai bentuk pembungkaman. “Tapi kami tidak mati. Tidak pernah mati. Teater tidak pernah mati!” katanya dalam pernyataan tertulis dilihat Jabar Ekspres, Senin (3/3).

Menurut Rachmat, sejak awal ia tidak pernah diberi kesempatan untuk menjelaskan isi pertunjukan yang dinilai pihak kampus mengandung unsur politik dan berpotensi memecah-belah bangsa.

Baca Juga:14 Bencana Terjang Kota Bogor, BPBD Tuntaskan IntervensiSebabkan Bencana, Dedi Mulyadi Bakal Tegas Soal Alih Fungsi Lahan di Puncak Bogor

Padahal, ia mengaku telah menyampaikan pesan kepada birokrat kampus agar dipanggil dan dimintai keterangan. Namun hingga studio digembok, panggilan itu tak pernah datang.

Rachmat juga mempertanyakan alasan administratif yang dijadikan dalih pelarangan. Surat permohonan penggunaan studio yang ia ajukan pada 9 Januari 2025 dinyatakan tidak sah karena belum ditandatangani.

“Saya akui, saya lupa membubuhkan tanda tangan. Tapi saya sudah memperbaikinya, juga berkomunikasi langsung. Kenapa baru satu bulan kemudian dipermasalahkan?” ujarnya.

Sebagai mantan dosen yang telah mengabdi selama 32 tahun di ISBI Bandung—sebelumnya ASTI dan STSI Bandung—Rachmat kecewa dengan sikap kampus. Ia menyebut pernah mengajar dan membimbing tugas akhir Rektor ISBI Bandung saat ini.

“Kami sudah saling mengenal puluhan tahun. Apakah tidak ada cara lain yang lebih etis dan manusiawi untuk berkomunikasi?” katanya.

Rachmat menegaskan, sebagai seniman, ia akan terus melawan kesewenang-wenangan. “Saya mungkin sudah pensiun sebagai dosen, tapi saya tidak akan berhenti berteater,” tandasnya.

Sebelumnya, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung tidak mengizinkan pertunjukan ‘Wawancara dengan Mulyono’ oleh Teater Payung Hitam (TPH) digelar di lingkungan kampus. ISBI Bandung menyatakan, keputusan diambil berdasarkan sejumlah pertimbangan administratif dan prosedural.

Baca Juga:Penyelesaian Banjir di Kota Bandung Belum Maksimal, DPRD Soroti Kurangnya Fokus!Stok Beras di Kabupaten Ciamis Aman untuk Ramadhan dan Idul Fitri

“Selama ini ISBI Bandung selalu mengakomodir kelompok-kelompok pertunjukan yang akan bermain di ISBI Bandung,” jelas pihak ISBI dalam konferensi pers, beberapa waktu lalu.

0 Komentar