DI teras Masjid Baitul Huda, ratusan orang duduk berhadap-hadapan, menikmati sajian nasi, lauk, dan kerupuk yang tersaji di atas piring mereka. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang ingin berbagi suasana hangat di masjid yang kini lebih dikenal sebagai Masjid Makan-Makan.
Pemandangan itu telah menjadi rutinitas di masjid yang berlokasi di Jalan Terusan Jakarta, Kota Bandung, terutama saat Ramadan. Setiap hari, panitia menyediakan makanan bagi siapa saja yang datang. Awalnya, program ini hanya menargetkan 40 porsi dalam 40 hari. Namun, niat kecil ini justru berlipat ganda dan terus berkembang.
“Alhamdulillah, niatnya cuma 40 hari, sekarang masih lanjut. Sampai kiamat mungkin,” kata Raihan Harada (44), salah satu pengurus masjid, kepada Jabar Ekspres belum lama ini.
Baca Juga:Ummi Wahyuni Gugat KPU RI dan DKPP ke PTUN JakartaPemerintah Gelontor 700 Maung MV3 untuk TNI dan Polri
Masjid Baitul Huda dulunya hanyalah sebuah tempat ibadah biasa di tengah kompleks perumahan. Raihan yang rumahnya berada di seberang masjid merasa sayang melihat masjid tak terlalu ramai. Bersama beberapa rekannya, ia mulai mengadakan kajian dan kegiatan keagamaan di sana.
Namun, perubahan besar terjadi setelah seorang guru mereka dari Pontianak berkunjung. “Dia bilang, ‘Bikin masjid makan-makan.’ Jujur, kami bertiga enggak kebayang,” ungkap Raihan.
Sang guru datang kembali dua bulan kemudian, menegaskan ulang idenya. Dengan keyakinan dan semangat mencoba, mereka memulai dengan memasak 40 porsi setiap malam. Awalnya hanya untuk 40 hari, kini keberkahan itu terus berlanjut hingga sekarang.
Memasuki Ramadan, program ini semakin ditunggu masyarakat. Tahun ini, target awal 1.000 porsi sehari harus diatur ulang karena keterbatasan tempat. “Kami enggak mau ada kedzaliman, enggak mau tetangga terganggu,” jelas Raihan.
Solusinya adalah mendistribusikan makanan ke masjid-masjid lain. Sepuluh hari pertama, mereka akan mengirimkan makanan ke masjid-masjid besar seperti Masjid Raya Bandung dan Masjid Al Jabbar. Sepuluh hari berikutnya, porsi akan dibagi ke 20 masjid berbeda, masing-masing mendapatkan 500 porsi per hari.
Selain itu, ada rencana besar lainnya: mengundang 1.000 santri untuk khataman Quran di Masjid Al Jabbar pada malam Nuzulul Quran. “Kami ingin merengek kepada Allah, ingin menjadikan kebermanfaatan ini lebih luas,” ujar Raihan penuh harap.
