JABAR EKSPRES – Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti tingginya jumlah truk over dimension over load (ODOL) di Indonesia, termasuk di Provinsi Jawa Barat.
Plt Ketua Subkomite Lalu Lintas Angkutan Jalan KNKT, Ahmad Wildan, mengatakan bahwa salah satu faktor utama maraknya truk ODOL adalah kurangnya pendidikan dan pelatihan yang tepat bagi pengemudi truk di Indonesia.
“Pengemudi truk kita banyak yang tidak terdidik dengan baik. Sistem sertifikasi yang ada untuk profesi lain, seperti pilot, masinis, atau nakhoda, jauh lebih terstruktur dan ketat. Tapi untuk pengemudi truk, itu belum ada,” kata Wildan, dalam wawancara dengan Jabar Ekspres, Jumat (28/2).
Baca Juga:PHK Marak di Cimahi, Pengusaha Minta Kemudahan Perizinan dari PemerintahAdaptasi di Awal Ramadan, Persib Siap Hadapi Persebaya!
Wildan mencontohkan bagaimana proses sertifikasi yang ketat dilakukan bagi profesi lain, seperti pilot, nakhoda kapal, dan masinis kereta.
Setiap pengemudi harus memiliki sertifikat dan pelatihan khusus, yang mencakup pemahaman tentang alat transportasi yang dikemudikan serta risiko-risiko yang mungkin terjadi.
Namun, di Indonesia, pengemudi bus dan truk justru banyak yang belajar secara otodidak tanpa pelatihan resmi.
“Selama lebih dari 20 tahun, di Indonesia belum ada sekolah mengemudi khusus untuk pengemudi bus dan truk. Padahal, kendaraan-kendaraan ini memiliki merk, tipe, dan teknologi yang berbeda-beda, yang tentunya membutuhkan pemahaman dan keterampilan khusus,” ujar Wildan.
Wildan menjelaskan bahwa teknologi kendaraan kini semakin maju, dengan sistem rem hidrolik, pneumatic, hingga teknologi baru seperti ototronik dan mekatronik, yang tentu saja perlu dipahami dengan baik oleh pengemudi.
Tanpa pelatihan yang tepat, pengemudi seringkali tidak menyadari potensi bahaya yang bisa timbul, seperti yang terlihat pada kasus truk trailer di Bekasi yang membawa muatan lebih dari 70 ton.
“Pengemudi truk tersebut membawa muatan 50 ton dengan kendaraan yang hanya dirancang untuk beban maksimal 35 ton. Mereka tidak tahu tentang perbandingan power-to-weight ratio, dan risiko-risiko yang mereka hadapi,” paparnya.
Baca Juga:UPTD Metrologi Cimahi Uji Tera BBM Jelang Puasa, Pastikan Takaran Aman di Tengah Isu KecuranganTragis! Siswa SMK Dharma Pertiwi Tewas saat Pentas Seni, Polisi Ungkap Kesimpulan Kasus
Oleh karena itu, Wildan mendorong agar pemerintah segera mendirikan sekolah pengemudi untuk bus dan truk.
