Terik matahari tak menyurutkan langkah para peziarah yang datang ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sirnaraga, Kota Bandung, pada Jumat (28/2). Di antara deretan nisan beton, keluarga-keluarga tampak duduk bersimpuh, menabur bunga, dan melantunkan doa.
Muhamad Nizar, Jabar Ekspres.
Seorang pria asal Reok, Rahmat Wijanarto (25), duduk tenang di depan makam ayahnya. Di sisinya, keluarganya turut berdoa. “Saya memang sudah sering ke sini, ke makam ayah,” ujarnya kepada Jabar Ekspres.
“Menjelang Ramadan, saya ingin mendoakan orang terkasih yang sudah tiada. Selain berdoa, saya juga membersihkan makam, menaburi bunga, dan menyiramnya.”
Baca Juga:KPU Jabar Masih ada Sisa Anggaran, Peluang untuk PSU TasikmalayaMulai 1 Maret 2025, Tarif Listrik Normal Lagi
Pemandangan di TPU Sirnaraga siang itu begitu khas menjelang bulan suci. Seorang ibu mengenakan gamis hitam duduk di samping makam sambil meneduhi anak dan kerabatnya dengan payung merah muda.
Bocah laki-laki di sampingnya memakai kacamata hitam dan peci, kakinya telanjang, berselonjor di atas pusara. Sementara seorang perempuan muda di sebelahnya membaca doa dengan penuh khusyuk.
Di sudut lain, sekelompok keluarga berjongkok di depan pusara yang telah ditaburi bunga merah dan putih. Mereka membawa setangkai bunga krisan, meletakkannya di atas tanah yang masih lembap. Di nisan hitam terukir nama-nama yang kini hanya bisa dikenang dalam doa.
Meskipun ini adalah ritual tahunan, suasana di TPU Sirnaraga kali ini terasa lebih padat. Jalan setapak antara makam dipenuhi orang-orang yang datang dan pergi. Penjual bunga dan air mulai berjejer di pintu masuk. Balon-balon warna-warni melayang di udara, dijajakan oleh pedagang yang mengincar anak-anak kecil yang ikut berziarah bersama keluarga.
Hari semakin siang. Peziarah terus berdatangan, membawa harapan dan doa bagi mereka yang telah pergi lebih dulu. TPU Sirnaraga kembali menjadi saksi bisu, bahwa kasih sayang tak pernah benar-benar hilang—hanya berpindah bentuk dalam lantunan doa dan bunga yang ditebar dengan penuh cinta.
“Semoga Ramadan tahun ini menjadi berkah bagi saya dan keluarga,” kata Rahmat sebelum beranjak pergi. “Terutama bagi mereka yang telah tiada. Semoga mereka bisa menikmati momen Ramadan dengan penuh khidmat.”
