JABAR EKSPRES – Sebuah penelitian terbaru berhasil menemukan pendekatan inovatif untuk membantu manusia menghapus atau mengurangi kenangan buruk/pahit.
Metode ini mengandalkan kombinasi pelatihan ingatan, manipulasi kenangan saat tidur, dan teknologi pemantauan aktivitas otak.
Tujuannya adalah mengubah asosiasi emosional terhadap ingatan tertentu, terutama yang bersifat negatif, menjadi lebih positif. Prosesnya melibatkan tiga tahap utama:
Baca Juga:Sejarah Aplikasi Jagat yang Diresmikan Jokowi pada 2022 LaluAplikasi Penghasil Uang Terbaru 2025 Membayar hingga Rp150.000 Saldo Gratis
1. Pembentukan Asosiasi Negatif
Pada malam pertama, para peserta diminta untuk menghubungkan kata-kata acak dengan gambar-gambar negatif.
Gambar-gambar ini termasuk foto manusia yang terluka, hewan berbahaya, atau situasi yang menimbulkan rasa tidak nyaman.
Tugas ini dirancang untuk menciptakan asosiasi yang kuat antara kata-kata tersebut dan kenangan negatif.
2. Penggantian Asosiasi dengan Gambar Positif
Keesokan harinya, setelah tidur malam yang berfungsi untuk mengonsolidasi ingatan, tim peneliti mencoba memprogram ulang sebagian dari asosiasi ini.
Mereka meminta peserta untuk mengaitkan beberapa kata yang sebelumnya terkait dengan gambar negatif, dengan gambar-gambar positif seperti lanskap yang menenangkan atau anak-anak yang tersenyum.
3. Pemutaran Isyarat Memori Saat Tidur
Pada malam kedua, kata-kata acak yang telah diucapkan sebelumnya diputar ulang saat peserta berada dalam fase tidur non-rapid eye movement (NREM).
Fase tidur ini dikenal penting untuk proses penyimpanan memori. Aktivitas otak peserta dipantau menggunakan elektroensefalografi (EEG).
Baca Juga:Kapan Redmi Note 14 Series Masuk Indonesia? Catat, ini Tanggal RilisnyaLolos CPNS tapi Mau Mundur? Ini Sanksi dan Cara Resmi agar Tak Kena Blacklist
Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa aktivitas theta-band otak, yang berhubungan dengan pemrosesan memori emosional, meningkat signifikan saat kata-kata tersebut diputar ulang bersama dengan gambar-gambar positif.
Efek yang Dirasakan Peserta
Melalui kuesioner yang diberikan keesokan harinya dan beberapa hari setelahnya, para peserta melaporkan bahwa:
1. Mereka kurang mampu mengingat kenangan negatif yang sebelumnya diasosiasikan dengan kata-kata tersebut.
2. Kenangan positif lebih sering muncul di pikiran mereka.
3. Mereka menunjukkan bias emosi yang lebih positif terhadap kata-kata tersebut.
Dengan kata lain, kenangan negatif berhasil “diacak” dan digantikan oleh kenangan positif, menciptakan pengalaman emosional yang lebih menyenangkan.
