Program Makmur Sejahterakan Petani Nagreg, Bangun Ekosistem hingga Katrol Panen Jagung

SUBUR : Petani Nagreg Ayep Saepudin saat memupuk tanaman jagungnya menggunakan Pupuk NPK dan Urea, Minggu (29/12/2024).(Hendrik Muchlison)
SUBUR : Petani Nagreg Ayep Saepudin saat memupuk tanaman jagungnya menggunakan Pupuk NPK dan Urea, Minggu (29/12/2024).(Hendrik Muchlison)
0 Komentar

Jagung jadi komoditas tanaman pangan yang sering ditanam oleh petani di Nagreg alasannya karena kondisi alam Kecamatan Nagreg itu sendiri. Kecamatan yang tercatat memilik luas 38,75 kilometer persegi itu secara umum berada di daerah lereng atau punggung bukit.

Kawasan itu ada di ketinggian antara 815 mdpl sampai 1.099 mdpl. Contohnya adalah ketika dalam perjalanan mudik dan melintasi Simpang Nagreg. Titik yang biasa jadi langganan macet saat mudik itu.

Di lokasi itu, pemudik akan dihadapkan dengan jalanan yang berkelok dan naik turun bukit. Kanan kirinya akan terbentang beberapa lahan pertanian. Tanaman jagung akan banyak dijumpai ketika musim tanam dan sebelum panen.
Ayep menceritakan, kondisi alam yang seperti itu memang cocoknya adalah ditanami jagung. Hal itu berkaitan dengan peluang irigasi dan kemudahan dalam pengolahan lahannya.

Baca Juga:Perkuat Kolaborasi, DPRD dan Pemkot Bogor Rumuskan Solusi Layanan BiskitaKantor SAR Bandung Mencatat Operasi Penyelamatan 2024 Menurun, Kecelakaan Didominasi di Perairan

Lahan yang berbukit jadi tantangan tersendiri jika harus diolah menjadi sawah. Termasuk keterbatasan dalam hal irigasi. “Kalau di sini (Nagreg.red) sebagian besar mengandalkan tadah hujan. Kurang cocok jika untuk padi,” katanya.

Kecamatan Nagreg terbagi dalam 8 desa, yaitu Desa Nagreg, Citaman, Nagreg Kendan, Ganjar Sabar, Mandalawangi, Bojong, Ciherang dan Ciaro. Desa terluas adalah Desa Bojong dengan 19,51 persen. Kecamatan itu dihuni 61.340 penduduk pada 2023.

0 Komentar